Candi Tikus Trowulan Mojokerto

Home » Jawa Timur » Mojokerto » Candi Tikus Trowulan Mojokerto
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Sebenarnya sudah sangat lama kunjungan ke Candi Tikus Trowulan Mojokerto ini saya lakukan, namun tulisan catatan perjalanannya baru sempat diterbitkan. Seingat saya candi ini memang merupakan tempat terakhir yang saya kunjungi di Trowulan setelah sebelumnya berkunjung ke beberapa candi serta petilasan lainnya.

Sebelum sampai ke Candi Tikus Trowulan kami melewati terlebih dahulu Kolam Segaran yang cukup luas, Museum Trowulan yang mengesankan, Pendopo Agung Trowulan dengan patung Gajah Mada dan Brawijaya, serta Candi Bajang Ratu yang berjarak 1,8 km dari Candi Tikus.

Dari loket pembayaran karcis saya berjalan kaki melewati taman yang bersih dengan tanaman perdu dan rumput yang dirawat cukup baik dan rapi. Namun tak terlihat ada candi di ujung sana karena rupanyan letak Candi Tikus Trowulan memang berada lebih rendah dari permukaan tanah.

Di sepanjang kiri kanan trap terbawah candi terdapat jaladwara atau pancuran air. Candi Tikus Trowulan sempat terkubur sebelum ditemukan pada 1914 berdasar laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro. Pemugaran bertahap dilakukan sejak saat itu, namun pemugaran menyeluruh baru dilakukan pada 1984 – 1985.

candi tikus trowulan
Pemandangan dari arah jalan masuk dengan jalanan blok ubin yang diapit tanaman perdu pendek. Sejumlah pohon yang cukup rimbun dengan tempat duduk di bawahnya ada di beberapa tempat, namun masih belum cukup untuk membuat teduh dataran area yang cukup luas ini.

Setelah berpuluh langkah berjalan sampailah saya di tepian Candi Tikus. Bangunan Candi Tikus berukuran 29,5 X 28,25 m, lebih rendah 3,5 m dari permukaan tanah dengan tinggi 5,2 meter. Adanya jaladwara berbentuk makara dan padma membuat orang menduga bahwa candi ini merupakan petirtaan di jaman Majapahit.

candi tikus trowulan
Tampak muka Candi Tikus, memperlihatkan bangunan utama candi di bagian tengah dengan sejumlah meru yang berada di tiga tingkatan. Bentuk meru pada setiap tingkatan itu berbeda, dengan meru teratas memiliki ukuran paling tinggi. Adanya meru menimbulkan dugaan bahwa candi ini juga merupakan tempat pemujaan.

Berdasarkan bentuk meru, Candi Tikus Trowulan diduga berasal dari abad ke-13 atau ke-14 M. Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretagama menyebutkan adanya tempat untuk mandi bagi raja, dan penyebutan tentang diselenggarakannya beberapa upacara yang mengambil tempat di dalam kolam kerajaan.

Penelitian H Maclaine Pont pada 1926 menyebutkan bahwa ada empat waduk di daerah Trowulan yang diduga kuat dibangun pada masa Majapahit, yaitu di Desa Baureno, Kumitir, Domas dan Temon. Waduk Baureno yang diduga merupakan sumber air bagi Candi Tikus, dan kemudian dialirkan ke arah kota.

candi tikus trowulan
Tampak pojok Candi Tikus, memperlihatkan undakan tiga trap yang menuju ke tepian kolam, dengan trap terakhir diapit semacam bak rendam kotak dengan undakan kecil ke arah kolam utama. Pada bak itu juga ada pancuran airnya.

Jika saja aliran sumber air bisa ditelusuri dan dihidupkan kembali maka Candi Tikus Trowulan akan menjadi jauh lebih hidup dan indah. Hanya saja akan menjadi tantangan tersendiri untuk membuat saluran buangan airnya karena letak candi yang berada lebih rendah dari permukaan tanah.

Nama Candi Tikus Trowulan diberikan oleh RAA Kromojoyo Adinegoro karena saat penggalian dilakukan atas perintahnya ternyata reruntuhan candi telah menjadi sarang tikus yang menjadi hama bagi para petani setempat. Karena memburu tikus itulah penduduk menemukan reruntuhan candi ini.

Penelitian lanjutan menunjukkan bawha bangunan Candi Tikus Trowulan terbuat dari batu bata merah berukuran besar pada kaki-kaki candi, yang kemudian ditutup dengan susunan bata merah berukuran lebih kecil. Sedangkan jaladwara pada candi ada yang terbuat dari bata merah dan ada pula yang terbuat dari batu andesit.

Foto Candi Tikus Trowulan selengkapnya: 4.Tampak Pojok Kanan 5.Candi Tikus

Candi Tikus

Dukuh Dinuk, Desa Temon
Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
GPS: -7.5718728, 112.403478

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 20 Januari 2017.

Lalu «
Baru » »