Candi Sambisari di Sleman Jogja

Home » Yogyakarta » Sleman » Candi Sambisari di Sleman Jogja
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Hari masih pagi, belum lagi pukul tujuh ketika saya tiba di Candi Sambisari Sleman, sebuah candi Hindu di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan. Udara cukup hangat, langit bersih. Penyakit pagi hari adalah lensa berembun begitu keluar mobil. Akibatnya harus menunggu sampai embun hilang semua.

Di dalam mobil mestinya kamera dibungkus rapat dengan kantong plastik, dan ketika turun dibiarkan sebentar untuk menyamakan suhu di dalam dan di luar plastik, baru digunakan. Jarak dari Situs Watugudig yang saya kunjungi sebelumnya ke Candi Sambisari adalah 7,1 km.

Kami melewati Jl Raya Yogya – Solo arah ke Yogya, lalu berbelok ke Utara sejauh 2,5 km, melintasi dua gerumbul pedesaan. Memasuki area Candi Sambisari yang terbuka luas dan sangat rapi, saya terpesona dengan apa yang saya lihat. Jika Candi Ijo yang mengesankan itu berada di puncak perbukitan, maka Candi Sambisari ini justru berada di bawah permukaan tanah.

candi sambisari
Lensa masih berkabut saat mengambil foto Candi Sambisari ini. Candi Sambisari yang diduga dibangun sekitar abad 9 Masehi ini posisinya berada 6,5 meter di bawah permukaan tanah, tertimbun lahar Gunung Merapi menyusul letusan hebat yang terjadi pada awal abad ke-11.

Area Candi Sambisari yang berbentuk persegi empat ini sangat luas. Pagar batu kelilingnya yang di sebelah dalam saja saja sudah berukuran 50 m x 48 m, dan yang di sebelah luar lebih dari 60 m panjangnya. Saya kemudian melangkah memutari sudut Candi Sambisari ke arah Timur lalu ke Utara, sebelum turun ke bawah, sambil mencari kehangatan matahari untuk menghilangkan embun pada kamera.

candi sambisari
Sebuah ceruk yang memperlihatkan susunan pagar batu di sisi Timur Candi Sambisari, yang jaraknya sekitar 40 m dari pagar luar yang berukuran 60 m tadi. Mengagumkan. Bisa dibayangkan betapa luasnya kompleks percandian ini di masa itu.

Dari sini saya menuruni undakan di sisi Timur Candi Sambisari yang tertata rapi, melewati pagar luar dan menikmati pemandangan dari sana.

candi sambisari
Candi induk di kompleks percandian Candi Sambisari, berukuran 13,65 x 13,65 m dengan tinggi 7,5 m, dimana bangunan candi di pusatnya dikelilingi dinding batu dalam jarak yang cukup dekat, yang seingat saya belum pernah saya jumpai di candi lainnya

Tiga candi perwara berada di sisi Barat, masih berupa tumpukan batu, belum direstorasi. Candi perwara di sisi kanan dan kiri berukuran 4,8 x 4,8 m, sedangkan yang berada di tengah berukuran 4,9 x 4,8 m.

Candi Sambisari ditemukan oleh seorang petani pada Juli 1966 ketika tengah mencangkul dan menemukan sebuah batuan candi berukir. Selanjutnya pada September 1966 dilakukan kegiatan ekskavasi oleh Kantor Cabang I Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional di Prambanan, dibantu para mahasiswa Arkeologi UGM.

Dari tahun 1975 sampai 1977, tim ekskavasi berhasil menampakkan bangunan candi induk dan tiga candi perwara, yang semuanya dalam keadaan runtuh, kecuali pada bagian kaki. Namun sebagian pagar langkan dan sebagian tubuh candi masih dalam kondisi asli. Pemugaran baru selesai dilakukan pada 1986.

candi sambisari
Besarnya ukuran Candi Sambisari dan kedalamannya dari permukaan tanah yang dilihat dari sisi Timur ini bisa diperbandingkan dengan tinggi Pak Agus, supir mobil sewaan yang menemani saya saat itu.

Memasuki pagar bagian dalam, saya lalu memutari candi menuju sisi Barat, dimana terdapat deretan candi perwara, dan akses masuk ke dalam candi utama Candi Sambisari.

candi sambisari
Di ujung bawah undakan candi induk Candi Sambisari terdapat sepasang ukiran patung yang halus dan indah, masing-masing disangga raseksi dengan genta menggelantung di setiap tangannya.

Dulu, di depan candi induk ini, ada patung dewa penjaga pintu candi yang bernama Mahakala dan Nandiswara, namun hilang dicuri pada tahun 1971. Pada tahun 1976, di bawah salah satu umpak candi induk ditemukan prasasti terbuat dari emas, berukuran 2 x 1 cm, bertuliskan om siwasthana yang berarti ‘hormat, rumah bagi Dewa Siwa’.

Pada halaman candi juga ditemukan arca Vajrapani, salah seorang Bodhisatva, terbuat dari perunggu selebar 12 cm dan tinggi 29 cm, juga beberapa talam, cawan perunggu, dan gerabah.

candi sambisari
Di ujung atas undakan Candi Sambisari, di bagian bawah tiang pagar pintu candi, terdapat ukiran sepasang kepala raksasa menghadap arah berlawanan. Dinding luar kiri kanan candi juga dihias ornamen ukir yang kaya dan indah, mirip kalpataru.

Ornamen pada Candi Sambisari ini terlihat begitu kaya, halus, indah, dan nyambung. Sebuah pekerjaan restorasi yang mengagumkan.

candi sambisari
Masuk ke ruang utama Candi Sambisari terlihat sebuah Lingga Yoni berukuran besar. Ini menunjukkan bahwa Candi Sambisari adalah candi Hindu Siwa. Di bawah cerat Yoni terdapat patung kura-kura yang disangga kepala naga.

Ruang utama Candi Sambisari ini sangat sempit, sehingga meskipun sudah menggunakan lensa wide angle 14 mm untuk memotret, namun masih memerlukan dua frame foto yang digabungkan untuk menghasilkan foto di atas.

candi sambisari
Pada ketiga sisi lain candi induk Candi Sambisari ini terdapat relung-relung yang berisi patung Agastya, Ganesha, dan Durga Mahesasuramardini.

candi sambisari
Patung Resi Agastya pada relung Selatan candi induk Candi Sambisari. Resi Agastya adalah pendeta Siwa yang taat kelahiran Kasi (Benares) yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Hindu di India. Karena itu Resi Agastya juga disucikan namanya dalam prasasti dan kesusastraaan kuno agama Hindu di Indonesia.

Kehalusan dan kekayaan ukiran dan relief Candi Sambisari bisa sebagian dilihat pada foto di atas, baik pada relief Kala, maupun relief pada batu-batu dinding di sekelilingnya.

candi sambisari
Arca Ganesha di relung Timur Candi Sambisari, juga dengan relief Kala di atasnya. Ganesha dipuja sebagai Dewa Pengetahuan dan Kecerdasan, Dewa Pelindung, Dewa Penolak Bala dan Dewa Kebijaksanaan.

Dalam tradisi pewayangan Jawa, Ganesha disebut sebagai Bhatara Gana yang merupakan salah satu putera dari Bhatara Guru (Siwa), beribu Dewi Parwati. Konon Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia, namun Siwa memenggalnya lantaran Ganesha mencampuri urusannya dengan Dewi Parwati. Siwa kemudian mengganti kepala Ganesa dengan kepala gajah.

candi sambisari
Patung Durga Mahesasuramardini di relung Utara Candi Sambisari, bertangan delapan memegang bermacam benda, dengan posisi mudra, posisi sakral yang biasa dilakukan para pendeta Hindu. Durga berdiri di atas punggung seekor kerbau yang duduk mendekam, dan ada raksasa kerdil keluar dari kepala kerbau. Nama Durga Mahesasuramardini berarti Durga yang membunuh kerbau jelmaan Asura, raksasa yang menyusup dan mengganggu kahyangan.

Durga adalah nama lain Dewi Parwati, Isteri Siwa. Durga juga dikenal sebagai Dewanagari, Betari Durga, dan Dewi Uma.

candi sambisari
Beberapa ornamen yang terdapat pada tembok batu keliling candi induk Candi Sambisari, dan yang tak kalah menariknya adalah adanya batu-batu pipih bundar dengan tonjolan di tengah, menyerupai umpak, pada lantai selasar candi.

Keluar dari candi utama, di halaman diantara candi perwara dan candi induk, terlihat ada Yoni dan Lingga pada posisi yang terpisah.

candi sambisari
Sungguh senang saya bisa berkunjung ke Candi Sambisari yang cantik ini, setelah puluhan tahun selalu terlewatkan pada setiap kunjungan saya ke wilayah Prambanan dan Kalasan.

Sebelum pergi, saya mampir ke pos informasi untuk membayar tiket sekecil Rp.2.000, dan mengisi buku tamu. Di sekitar pos informasi juga terlihat ada patung Resi Agastya, patung tanpa kepala, dan patung penjaga pintu candi, yang diletakkan begitu saja di atas tanah.

Untuk bisa lebih tenang menikmati keindahan relief Candi Sambisari yang halus, kaya, dan sangat indah ini, sebaiknya anda berkunjung ke tempat ini di pagi atau sore hari, agar tidak terintimidasi oleh terik matahari. Membawa payung atau topi juga akan berguna, jika tidak bisa berkompromi dengan waktu.

Candi Sambisari

Alamat: Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Lokasi GPS: -7.76292, 110.44698. Peta Wisata Sleman, Tempat Wisata di Sleman, Hotel di Yogyakarta.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »