Candi Cetho Karanganyar

Home » Jawa Tengah » Karanganyar » Candi Cetho Karanganyar
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Kunjungan ke Candi Cetho Karanganyar di Provinsi Jawa Tengah ini saya tuntaskan setelah sempat mengambil sebuah jalan simpang ke kiri di dalam kompleks Candi Cetho. Itu saya lakukan untuk berkunjung terlebih dahulu ke Puri Taman Saraswati yang elok serta Candi Kethek yang juga berpotensi menjadi candi yang hebat. Agar tidak lupa.

Meskipun berjalan cukup jauh dan memakan tenaga lumayan banyak sejak kunjungan pertama ke Air Terjun Jumog hingga ke Candi Kethek, namun semangat masih tinggi untuk melanjutkan jalan kaki meniti setiap undakan yang memisahkan trap-trap bertingkat di Candi Cetho.

Dari seluruhnya 14 teras berundak yang ada di Candi Cetho, membujur dari Barat di bagian bawah sampai ke Timur di bagian atas sepanjang 190 m dan lebar 30 m, tinggal 13 teras yang masih ada dan pekerjaan pemugaran baru dilakukan pada 9 teras. Lokasi Candi Cetho ini berada di lereng Barat Gunung Lawu pada ketinggian 1496 mdpl.

Pada teras I tidak ditemukan bekas-bekas gapura pada pintu masuknya, dan dicapai dengan menaiki undakan cukup tinggi yang merupakan kelanjutan jalan menanjak tajam tanpa undakan dari area parkir kendaraan. Di tengah halaman teras ada tiga arca dan sebuah batu umpak yang susunannya tidak teratur.

candi cetho karanganyar
Di latar belakang atas terlihat gapura candi bentar pertama yang dicapai dengan melewati trap undakan dengan sekitar 25 anak tangga menuju teras II, melewati beberapa anak tangga ke teras III, dan lanjut naik melewati candi bentar itu dan masuk ke teras IV.

Di latar depan pada teras I terlihat arca setengah badan yang sudah tak utuh serta sebuah arca berjenggot, berkumis, mengenakan anting, yang menurut sementara orang potongan rambutnya menyerupai orang Romawi, Sumeria, Viking atau Yunani. Bentuk mata arca itu juga dianggap sangat mirip dengan posisi mata pada patung Sumeria. Gelang pada tangan kanan dan kiri patung mirip jam tangan, yang konon juga merupakan ciri khas kebudayaan Sumeria (sekitar 3.500 – 2.300 tahun SM)

Di tengah teras II terdapat arca batu lagi dengan kedua tangan bertangkup di depan dada. Di sebelah kanan patung pria itu terdapat papan pamer yang berisi informasi tentang sejarah Candi Cetho, kegiatan penelitian, serta pemugaran yang pernah dilakukan sebelum catatan itu dibuat.

Gapura candi bentar dengan arsitektur bergaya Bali di teras IV itu merupakan bangunan baru yang didirikan pada saat renovasi yang dilakukan Soedjono Hoemardani pada 1978. Renovasi itu mendapat kecaman dari para arkeolog karena tidak dilakukan dengan memakai kaidah yang benar. Pada teras IV ini terdapat dinding talud yang tersusun dari batu andesit, namun tidak terdapat artefak.

Teras V hampir sama tingginya dengan teras IV, dan ada bekas gapura pada pintu masuk berupa gundukan tanah. Jalan tanah rata mulus diperkeras membelah area di teras IV sepanjang sekitar 30 meter, dengan lapangan rumput di kiri-kanannya. Di sisi depan kanan terdapat umpak batu, dan di sisi belakang kanan pintu masuk terdapat arca menghadap ke belakang.

Teras VI juga hampir setinggi teras V dan tanpa gapura. Pada sisi kiri ada cungkup beratap ijuk tumpang dua tanpa kemuncak disangga 15 tiang kayu, dengan tempat persembahan berbentuk bujur sangkar di tengah cungkup. Ada pahatan berbentuk burung garuda di empat sudut atas cungkup. Ada undakan batu untuk naik ke lantai altar dengan dua arca kura- kura di undakan teratas. Cungkup ini disebut petilasan Kyai Krincing Wesi oleh penduduk setempat.

candi cetho karanganyar
Pemandangan pada teras VII Candi Cetho setelah melewati gapura candi bentar setinggi 3,5 meter dengan bagian atas menyerupai mahkota. Di bagian bawah pipi kanan gapura terdapat pahatan prasasti.

Susunan batu elok terlihat berada di tengah area yang datar. Jika dilihat dari atas maka susunan batu itu berwujud burung garuda dengan sayap membentang dan badan berupa kura-kura. Adanya arca kura-kura dan garuda ini memberi petunjuk bahwa Candi Cetho merupakan candi Hindu yang digunakan untuk melakukan ritual ruwatan, terkait dengan kisah Samudramanthana dan cerita Garudeya.

Samudramanthana menceritakan taruhan antara Kadru dan Winata, keduanya istri Begawan Kasyapa, tentang warna kuda Ucchaisrawa pembawa Tirta Amrta (air kehidupan) yang akan keluar dari dalam laut karena diaduk para dewa dan raksasa. Mandaragiri digunakan sebagai pengaduk, ditopang oleh kura-kura jelmaan Dewa Wisnu. Winata menebak warna kuda putih semua, sedangkan Kadru menebak warna kuda putih namun ekornya hitam. Kadru berlaku curang dalam pertaruhan itu dengan menyuruh anak-anaknya yang berbentuk ular naga untuk menyemprotkan bisa ke ekor kuda sehingga warnanya berubah dari putih menjadi hitam. Winata pun kalah taruhan dan menjadi budak Kadru. Selanjutnya kisah Garudeya bisa dibaca di tulisan Candi Sukuh.

Di atas kepala garuda melintang sebaris terdapat tiga batu tunggal bulat gepeng yang di atasnya terdapat relief lambang Surya Majapahit berbentuk bola bersinar. Pada batu di tengah yang berdiameter 74 cm terdapat tujuh garis sinar, dan pada dua batu bulat lain yang berdiameter 85 cm terdapat sembilan garis sinar.

Di atasnya lagi ada segitiga sama kaki, menggambarkan vagina yang bertemu dengan susunan batu sepanjang 1,85 meter yang menggambarkan penis (phalus, lingga, atau kalacakra), dan ditafsirkan sebagai lambang kelahiran kembali dan dibebaskan dari dosa sesudah menjalani ruwatan.

Pada pangkal phalus ada tiga bulatan batu, satu diantaranya menempel di atas batang. Di sebelahnya, masih pada permukaan batang phalus di batu berbeda ada pahatan cicak dan belut berhadapan. Bagian ujung phalus yang menempel ke segitiga, bentuknya melebar layaknya kelamin pria.

Alas segitiga memiliki panjang 3,14 cm dengan panjang sisi 3,05 meter. Di tengah dasar segitiga terdapat relief tiga ekor katak dalam posisi berpunggungan menghadap ke setiap sudut. Di sebelah kiri katak terdapat relief ketam, di depan relief belut, dan di kiri relief mimi, semuanya menghadap ke arah katak. Kempers menafsirkan sengkalan itu sebagai welut (3) wiku (7) anahut (3) iku = mimi (1), dan dibaca terbalik menjadi 1373 Saka, atau 1451 M, yang diduga merupakan tahun pemugaran candi.

Melangkah ke teras VIII, di sebelah kiri ada bekas pondasi berbentuk bujursangkar dengan batu-batu berelief disusun di pinggiran pondasi. Di dalamnya ada arca kura-kura yang kepalanya sudah hilang. Di bawah tangga masuk ke teras IX dimana terdapat candi bentar terdapat sepasang arca penjaga pintu gapura.

Di teras IX ada pendopo di kiri kanan jalan masuk dimana masing-masing terdapat arca Sabdapalon di sisi utara dan arca Nayagenggong di sisi selatan. Keduanya diyakini sebagai abdi dan penasihat spiritual Sang Prabu Brawijaya V, dan juga dianggap sebagai leluhur masyarakat di desa-desa sekitar. Di kaki anak tangga ke teras X terdapat tiga buah arca lagi.

Lanjut ke teras X ada dua pendopo di kiri dan kanan jalan. Lalu di teras XI ada empat bangunan baru sebagai tempat arca dan dua balai- balai untuk tempat istirahat pengunjung. Bangunan yang berada di tengah merupakan bangunan tidak berpintu, sedangkan dua bangunan lainnya merupakan bangunan tertutup berisi sekumpulan arca. Di teras ini terdapat arca Brawijaya V serta arca Phallus. Pada teras XII juga terdapat empat bangunan tempat arca tidak berpintu dan dua balai- balai.

candi cetho karanganyar
Bangunan induk Candi Cetho berbentuk trapesium yang berada di teras paling atas, mirip bangunan di Candi Sukuh. Di atas bangunan induk terdapat altar berbentuk kubus. Meskipun bangunan ini baru, dan dikritik karena tidak dibuat berdasarkan kaidah arkeologis, saya kira langkah itu masih lebih baik ketimbang membiarkan peninggalan kuno dalam posisi runtuh dan berantakan dalam waktu yang sangat lama.

Candi Cetho diperkirakan berdiri sekitar abad XV, berdasar sengkalan angka tahun yang terpahat pada gapura teras VII yang berbunyi “goh wiku hanahut iku” atau 1397 Saka (1475 M). Namun ada pula yang memperkirakan bahwa usia Candi Cetho jauh lebih tua dari itu melihat jenis dan pahatan pada sejumlah arca yang diduga bukan berasal dari era Majapahit.

Foto Candi Cetho berikutnya: 4.Tanjakan 5.Teras I 6.Teras V 7.Krincing Wesi 8.Kura-Kura 9.Teras VII 10.Relief1 11.Kura-kura 12.Relief2 13.Penjaga 14.Candi Bentar 15.Kura-Kura 16.Arca 17.Sabdapalon 18.Brawijaya V 19.Phallus 20.Candi utama 21.Lorong 22.Surya Majapahit

Candi Cetho

Alamat: Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasi GPS: -7.59536, 111.15672. Peta Wisata Karanganyar, Tempat Wisata di Karanganyar, Hotel di Tawangmangu

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »