Bunker Laweyan

Home » Jawa Tengah » Solo » Bunker Laweyan
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Informasi tentang adanya Bunker Laweyan Solo saya peroleh ketika melihat dan mempelajari dari dekat papan denah Kampung Batik Laweyan yang dipasang di dekat parkir kendaraan saat berkunjung ke Masjid Laweyan. Beberapa nama yang tak ada dalam catatan kunjung juga ada pada papan nama. Papan itu sangat membantu.

Ukuran denah lokasi itu cukup besar, dengan penempatan lambang dan nama tempat cukup mudah untuk dilihat dan dicerna. Melihat noktah Bunker Laweyan terlihat tak jauh dari gang di pinggir jembatan, arah ke kiri, maka saya pun memutuskan untuk mencoba melihatnya.

Setelah berjalan menyusuri gang sejauh sekitar 50 meter, dengan mengikuti kata hati saya pun belok ke kanan, dan baru sekitar 60 meter kemudian saya bertanya kepada seorang penduduk, dan ternyata pintu masuk Bunker Laweyan telah terlewati beberapa langkah.

bunker laweyan solo
Gang di wilayah Kampung Batik Laweyan yang terlihat rapi dan bersih, dengan pot-pot tanaman yang meskipun tidak terlalu banyak namun cukup memberi pemandangan yang lumayan hijau di sepanjang gang.

Gapura dengan pintu kayu berwarna coklat pada foto adalah jalan masuk ke Bunker Laweyan. Tak terkunci ketika saya buka, dan suasana sepi sampai beberapa langkah ke depan. Ketika sampai di ujung halaman barulah saya bertemu seorang warga yang memberi tahu lokasi Bunker Laweyan. Tepat di belakang saya, di dalam sebuah rumah tua.

Seorang bapak yang telah berumur membukakan pintu, belakangan ia memperkenalkan diri bernama Harun Muryadi, berusia 66 tahun namun masih tampak sehat dan bersemangat. Setelah mengetahui maksud kedatangan saya, ia pun mengiringi berjalan ke tengah ruangan, menggeser dua buah papan lusuh di atas lantai, dan terlihatlah sebuah lubang berukuran sekitar 60×70 cm.

bunker laweyan solo
Harun Muryadi di dalam ruangan yang terlihat berantakan, tampaknya merupakan bagian belakang dari rumah utama, dipisahkan oleh dinding yang sepenuhnya terbuat dari kayu yang terlihat tua.

Lubang Bunker Laweyan tampak pada lantai yang ditinggikan dengan papan kayu penutup yang telah digeser berada di sebelahnya. Sebuah lukisan batik abstrak tampak berdiri di sisi kanan. Bunker itu merupakan satu-satunya bunker di rumah ini.

Menurut penuturan Harun Muryadi, Bunker Laweyan ini dibuat oleh Bei Kertayuda, seorang punggawa Keraton Pajang, pada 1537. Bunker ini dibuat bukan sebagai bunker perlindungan, namun tempat untuk menyimpan harta kekayaan mengingat situasi keamanan pada waktu itu yang tidak begitu baik. Harun Muryadi adalah keturunan kesembilan dari Bei Kertayuda.

bunker laweyan solo
Lubang Bunker Laweyan yang dindingnya dilapis dengan bata telanjang. Ada undakan tipis pada sisi sebelah kiri, dan setelah meminta ijin saya pun turun dengan hati-hati ke dalam lubang yang lumayan sempit ini.

Sampai ke dasar lubang, kaki menjejak tanah kering. Gelap gulita di bawah sana, dan Harun Muryadi mengulurkan sebuah senter kecil yang agak susah saya terima karena lubang yang cukup dalam dan tangan kanan yang terkilir belum lagi sembuh.

Dengan cahaya lampu senter yang suram saya bisa melihat ukuran bunker yang kurang dari dua meter panjang dan lebarnya itu. Tidak ada apa-apa di sana. Peti simpanan harta pun tak ada. Hanya dinding bunker dan kegelapan. Sumber cahaya dan sumber udara satu-satunya hanya dari lubang masuk.

Menyimpan harta kekayaan memang tak selamanya mudah dan aman. Bahkan menyimpan di bank modern sekali pun belum tentu harta tak raib. Selalu ada resiko. Rejeki datang dan pergi kadang seperti mimpi, atau seperti rapal Nini Thowok, datang tak diundang pergi tak diantar. Bunker Laweyan menjadi saksi bisu harta apa saja yang pernah di simpan di sana, dan semua harta itu kini tak ketahuan lagi dimana rimbanya.

Foto Bunker Laweyan lainnya: 4.Harun 5.Rumah 6.Kain

Bunker Laweyan

Alamat: Desa Pajang, Laweyan, Solo, Jawa Tengah. GPS: -7.57171, 110.79319. Tempat Wisata di Solo . Peta Wisata Solo . Hotel di Solo.

Share | Tweet | WA | Email | Print! |

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »