Air Tiga Rasa Rejenu Kudus

Home » Jawa Tengah » Kudus » Air Tiga Rasa Rejenu Kudus
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Ada ketidaksengajaan, atau mungkin setengah jodoh, bahwa kami dapat berkunjung ke Air Tiga Rasa Rejenu Kudus yang nama “resminya” adalah Sendang Petilasan Syekh Sadzali Rejenu. Jodoh setengahnya lagi sayangnya tak kesampaian, lantaran mestinya juga berkunjung ke Air Terjun Monthel yang berjarak hanya sekitar 1,3 km sebelum sendang.

Cerita sebelum ke Air Tiga Rasa Rejenu, berpuluh undakan telah kami turuni dari area Makam Sunan Muria dan lutut mulai tegang serta timbul jemu oleh sebab tak bisa melihat panorama lantaran kiri kanan undakan tertutup lapak. Mau berhenti makan pecel tapi belum lapar. Karenanya saat bertemu jalan simpang dan melihat ojeg di sana, timbul godaan: naik ojeg atau terus jalan kaki menuruni undakan.

Saat menanyakan harga, tukang ojeg memberi tawaran menarik selain pilihan kembali ke parkir kendaraan, ialah membawa kami ke Air Tiga Rasa Rejenu. Kepalang tanggung sudah joged jantung sewaktu ke makam, kami menyetujuinya. Perjalanan ke Rejenu meski lebih jauh dan juga menanjak, namun tak semendebarkan saat ke makam. Jaraknya sekitar 3 km, separuhnya mengarah ke utara, artinya memanjat lereng Gunung Muria.

air tiga rasa rejenu kudus
Gapura paduraksa yang diapit candi bentar pendek kami temui beberapa saat setelah turun dari ojeg dan lalu berjalan kaki menapaki undakan cukup banyak dengan kemiringan sekitar 45 derajad. Suasana di dusun ini lumayan sunyi dengan perdu dan pepohonan terlihat dimana-mana, sebagian dengan batang yang besar, sebagian lagi sangat besar. Mengesankan.

Pada gapura menempel piringan keramik berwarna tembaga dengan lukisan suluran dan bebungaan, serta ada sebaris lengkung tulisan huruf Jawa. Ada lima piringan seperti itu dengan torehan berbeda, yang semuanya tak bisa saya baca. Sebagian besar orang Jawa memang mungkin sudah buta aksara. Menyedihkan. Selain itu ada piring keramik putih klasik dengan ornamen biru.

air tiga rasa rejenu kudus
Salah satu dari lima piringan keramik yang menempel pada dinding depan gapura paduraksa itu. Meski telah mencoba menerkanya, tetap saja saya tak bisa membacanya. Padahal mestinya mudah. Begitulah, huruf dan bahasa yang lama tak digunakan lambat laun akan terpendam mengeras di kerak ingatan dan sulit dimunculkan.

Pada dinding gapura candi bentar bagian bawah ada keramik bertulis aksara Arab gundul, namun hanya “Allah” yang bisa saya baca. Di atas lubang gapura ada lagi aksara Arab yang hurufnya jelas namun ragu keakuratan bacaan saya. Melewati gapura ada undakan ke makam Syekh Sadzali, sedangkan ke kiri ada jalan menurun landai menuju ke Air Tiga Rasa Rejenu. Kami melangkah ke arah makam dahulu.

air tiga rasa rejenu kudus
Jirat kubur makam Syekh Sadzali dikelilingi kelambu yang dilindungi kisi kayu. Kelambu itu kabarnya dibuka dan diganti setiap tanggal 25 Syura dengan ritual Bukak Luwur. Rangkaian acaranya ada pengajian, khataman Al-Qur’an, tahlil, dan selamatan nasi tumpeng. Bekas kelambu kemudian menjadi rebutan peziarah.

Di sebelah seorang remaja yang tengah membaca kitab suci di sisi makam, tak terlihat pada foto, ada sebuah batu besar yang sepertinya dikeramatkan, dilandasi tumpukan bata. Di serambi yang dipisahkan dengan makam oleh tembak bata merah telanjang, duduk seorang pria di belakang meja pendek. Saya sempat berbincang sepintas dengannya saat mengisi buku tamu.

Ia mengatakan bahwa masih belum jelas benar mengenai asal-usul Syekh atau Syeikh Sadzali ini. Ada yang menyebut ia murid Sunan Muria, ada pula yang menyebut gurunya karena letak makamnya berada di area yang lebih tinggi. Konon makam ini ditemukan tiga orang musafir dari Arab yang mencari leluhurnya setelah mendapat petunjuk dari seorang tua.

air tiga rasa rejenu kudus
Salah satu dari mata Air Tiga Rasa Rejenu yang disebut sebagai sendang petilasan Syekh Sadzali itu. Ketiga sendang letaknya berdekatan, dan semuanya berukuran sekecil sendang ini, dikelilingi tembok bata polos. Ketiga mata air itu konon tak pernah kering meski di musim kemarau. Bisa dimaklumi karena masih banyak pohon besar di sekitarnya.

Tak saya cicipi rasa ketiga sendang itu, hanya menggunakannya untuk mencuci tangan dan membasuh muka. Dingin dan segar. Rasa air sendang konon berbeda-beda, agak asam, agak pahit dan tawar. Menurut kabar burung, dahulu ada sendang keempat yang jika dicampur semuanya maka bisa mengabulkan keinginan orang. Namun sendang itu telah ditutup Syekh Sadzali. Namanya cerita burung, tak ada yang baper jika njenengan tak mempercayainya.

Lepas dari semua cerita tentang Air Tiga Rasa Rejenu, ada rasa senang melihat banyak pohon besar tinggi dan rimbun di sana. Lingkungan tuanya masih terjaga. Jika berkunjung, karena curah hujan di sana tinggi, baiknya sebelum tengah hari sudah turun ke Colo. Bersiap juga membayar ojeg lebih mahal saat turun, yang harus ditelan lantaran jalan kaki bukan pilihan.

Galeri (29 foto): 1.Paduraksa, 2.Keramik, 3.Kelambu, 4.Sendang, 5.Berbukit, 6.Undakan, 7.Candi Bentar, 8.Tembikar, 9.Tebu … s/d 29.Tapal.

Air Tiga Rasa Rejenu Kudus

Komentar. Alamat: Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Jam buka sembarang waktu. Lokasi GPS: -6.6512523, 110.9028652, Waze. Tempat Wisata di Kudus, Peta Wisata Kudus, Hotel di Kudus.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »