Ada Pendiri Boedi Oetomo di Pesarean Keboetoeh

Salah satu tempat, meski tak lazim, yang bisa digunakan untuk mempelajari sejarah suatu daerah adalah makam. Ya. Kuburan. Yang tua tentu saja. Sekira setahun lalu ketika sedang melakukan tetirah ke Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, saya menyempatkan diri untuk pergi berziarah ke Pesarean Keboetoeh (baca: Pemakaman Kebutuh). Seusai menjalankan shalat maghrib, saya diajak oleh kawan Billy untuk ‘mbolang’ alias menjelajah Kota Purwokerto dengan mengendarai sebuah sepeda motor. Ia lalu membawa saya menuju kota kecil bernama Sokaraja Kulon, hanya sekitar 5 km ke arah Tenggara Purwokerto.

Kelurahan Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja ada di wilayah kabupaten Banyumas. Daerah yang terkenal dengan oleh-olehnya berupa Getuk Goreng atau Soto Sokarajanya. Sepanjang jalan memang berjajar rumah makan dan toko oleh-oleh dengan label kedua jenis kuliner itu. Sokaraja pada awalnya adalah sebuah Kadipaten di bawah pimpinan seorang Bupati, namun kemudian pemerintah Hindia Belanda menghapus dan menjadikannya Kawedanan. Baru pada 1995 menjadi Kecamatan di Kabupaten Banyumas.

Ketika Billy menyebutkan bahwa di arah belakang toko-toko itu ada makam dr. Angka spontan saya meminta diantar ke sana. Dari jalan raya Jenderal Soedirman atau Jalan Ajibarang – Secang, sepeda motor masuk ke jalan kecil di samping Alfamart ke arah utara. Setelah melewati beberapa persimpangan, kami sampai di depan Regol atau Gapura Pemakaman Kebutuh. Meski di tepi jalan kecil depan gerbang pemakaman diberi penerangan, namun karena di dalam tak ada penerangan sama sekali, maka tempat yang cukup luas ini cocok sebagai tempat untuk uji nyali, he he.

gapura pesarean keboetoeh
Gapura Pesarean Keboetoeh. (foto: umarsyaifullah)

Komplek pemakaman ini cukup luas dan sebetulnya terdiri dari dua bagian. Gapura sebagaimana terlihat pada foto di atas adalah pintu masuk ke Komplek Pesarean Leluhur yang berisikan makam keluarga besar leluhur Banyumas sejak Bupati Banyumas ke 13, Raden Adipati Cakrawedana alias Raden Bratadiningrat. Ia menjabat pada tahun 1813 -1830. Komplek pemakaman di sebelah selatan yang kami lewati sebelumnya adalah Tempat Pemakaman Umum Kebutuh.

Di sepanjang jalan kecil menuju lokasi terkesan lingkungan yang kental pengikut Nahdlatul Ulama. Tak ada nuansa wingit atau seram malam itu di depan gerbang pemakaman. Sayup-sayup terdengar kelompok marawis sedang berlatih qasidah.

Billy mengajak saya menemui juru kunci makam di rumahnya yang tak jauh dari gerbang makam. Namanya pak Syahri. Usianya 70 tahun. Ia mengaku menjalani tugasnya secara turun temurun sejak kakek buyutnya yang bernama Ali Mustofa. Pembicaraan kami dalam bahasa Jawa halus menengah malam itu ditingkah oleh suara tekukur peliharaan pak Syahri. Sebuah klangenan (hobi) di kalangan orang-orang Jawa.

syahri kuncen pesarean keboetoeh
SYAHRI (70 th) kuncen Pesarean Keboetoeh. (foto: umarsyaifullah)

Setelah berbincang mengenai sejarah dan silsilah bupati/wedana Banyumas, kami diantar oleh pak Syahri memasuki kompleks makam. Ternyata gerbang makam itu membatasi bagian makam-makam khusus petinggi-petinggi Banyumas serta tokoh-tokoh lainnya. Semacam Imogiri di Yogyakarta atau Astana Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Beruntunglah saya dan para pemerhati budaya dengan adanya kompleks makam seperti ini. Jadi meski sekitar 70 persen anggota keluarga yang masih berkaitan dengan isi kompleks makam ini tinggal di Jakarta dan di tempat lain, di sinilah riwayat serta silsilah Banyumas masih tersimpan dengan cukup baik.

Sokaraja adalah pusat pemukiman dan perdagangan pertama di Banyumas. Dengan adanya gula sebagai pokok perekonomian, kota kecil ini adalah distrik pertama yang mendapat suntikan modal Belanda saat awal periode tanam paksa (1840 – 1870). Dengan modal inilah Sokaraja memiliki jalan-jalan kereta api, pasar, saluran irigasi, serta jalan raya. Masa kejayaan gula meredup pada akhir 1920-an.

Periode berikutnya, Sokaraja dikenal sebagai kota batik hingga 1960. Setelah itu sejak awal Orde Baru hingga akhir 1980-an, menjadi kota lukisan dan keramik. Maka getuk goreng dan kripik menjadi penanda geliat perekonomian masyarakat di sana hingga kini.

Ternyata dinamika ekonomi masyarakat Sokaraja ini tak lepas dari peran Islam, dalam hal ini para kyai NU di wilayah ini. Jadi kegiatan keagamaan selalu berjalan selaras dengan perdagangan sebagai aspek ekonomi umatnya. KH Saifuddin Zuhri, Menteri Agama masa Orde Lama adalah seorang ulama dari Sokaraja ini.

prasasti raden adipati bratadiningrat
PRASASTI dalam bangunan menyebutkan: Raden Adipati Bratadiningrat. Seda tanggal 6 Rabiulakir, Je 1758 = 16 September 1830. (foto: umarsyaifullah)

Bermodalkan senter LED milik pak Syahri, kami diajak tur menyusuri cungkup-cungkup makam para leluhur Banyumas. Di antara makam di sana ada yang dibuatkan rumah tersendiri yaitu makam Bupati ke 13 Adipati Bratadiningrat. Dalam bangunan yang sama ada sebuah makam lagi, agaknya makam istrinya.

Sama sekali tak ada lampu di dalam bangunan ini, seperti juga di luar. Saya dipersilakan masuk sendirian lalu pintu ditutup. Pak Syahri sang kuncen dan kawan Billy menunggu di luar pintu sambil mengobrol. Tentu senter LED bersama mereka. Jadilah saya berada dalam kegelapan total. Saya kebingungan bagaimana mau memotret apalagi hanya berbekal kamera di smartphone. Untungnya tak ada gangguan terhadap fungsi kamera yang kadang terjadi di situs-situs tua. Rupanya ada prasasti di situ.

Pada prasasti disebutkan Raden Adipati Bratadiningrat wafat tanggal 6 Rabiulakir, Je 1758. Je adalah nama tahun Windu Jawa. Dengan demikian tanggal dan tahun tersebut dalam kalender Masehi adalah 16 September 1830. Untuk menerjemahkan tulisan prasasti tersebut saya mendapat bantuan dari Mukhtar Zaedin, seorang tokoh dan pegiat budaya di Cirebon.

Selesai mengirimkan Fatihah dan doa pada penghuni kubur, saya pun keluar ruangan. Saya kira Billy akan bergilir masuk. Namun ternyata tidak. Maka kami pun melanjutkan Ngijing Bengi itu alias ziarah kubur malam hari. Kami lalu menuju makam Dr. Angka, salah seorang tokoh Paguyuban Boedi Oetomo.

makam dr. Angka pesarean keboetoeh Makam dr. Angka. (foto: Billy Kamajaya)

Nama lengkapnya adalah Raden Angka Prodjosoedirdjo. Sebagai mahasiswa kedokteran di STOVIA, ia adalah salah seorang pendiri Boedi Oetomo dan menjabat sebagai bendahara. 4 tahun kemudian di tahun 1912 ia lulus sebagai dokter dengan predikat cum laude.

Dr. Angka pernah diminta untuk menandatangani surat pernyataan sebagai Perintis Kemerdekaan sehingga layak mendapat tunjangan pemerintah. Ia menolak melakukannya dengan alasan bahwa jasa-jasa dan perjuangannya untuk bangsa ini adalah Kewajiban dan Tanggung Jawab semata.

Luar biasa? Ah. Saya kira di jaman itu banyak yang berpandangan serupa. Justru yang luar biasa adalah mereka yang dipilih oleh rakyat menjadi wakil dan pimpinan lalu melupakan hal itu, malah menuntut perlakuan yang istimewa dengan menyebut-nyebut jabatannya.

Tak jauh dari makam dr. Angka juga ada makam Margono Sukardjo, dokter Indonesia pertama dan kemudian menjadi dokter ahli bedah Indonesia pertama juga. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di Purwokerto.

Sungguh sebuah petualangan yang mengesankan. Berziarah ke kuburan malam-malam dan mendapatkan pengetahuan tentang budaya dan sejarah.

Pesarean Keboetoeh Sokaraja Banyumas

Alamat : Desa Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Banyumas. Lokasi GPS : -7.451943, 109.289165, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Banyumas » Ada Pendiri Boedi Oetomo di Pesarean Keboetoeh
Tag : ,

Oleh Umar Syaifullah. Seorang pencari sunyi dan "penempuh jalan" yang tak biasa ditapaki kebanyakan orang, mantan jurnalis cetak dan elektronik di sejumlah media, yang masih senang mengamati fenomena alam di dua dunia dan misteri apa yg ada di dalamnya. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 3 Agustus 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap