Sesaat di Vihara Setia Budi Medan

Adalah pada tanggal dua puluh bulan November 2009, sekitar jam 3 sore, ketika saya berkunjung ke Vihara Setia Budi, yang merupakan salah satu kelenteng yang besar dan tertua di kota Medan. Nama asli Vihara ini adalah Kelenteng Kwan Tek Kong. Perubahan nama itu dan fungsinya yang lalu menjadi kelenteng Tri-Dharma (tiga kepercayaan: Buddha, Tao dan Kong Hu Cu) adalah terjadi pada masa Orde Baru, karena pemerintahan Soeharto ketika itu tidak mengakui secara resmi kepercayaan Kong Hu Cu dan Tao.

Sebuah tindakan yang dilakukan oleh hampir semua pengurus kelenteng di negri ini, semata-mata untuk menjaga kelangsungan hidup tempat ibadah mereka.

Kuil yang cukup besar ini letaknya agak tersembunyi di tengah-tengah permukiman warga, meskipun lokasinya masih berada di tengah perkotaan, tidak jauh dari Merdeka Walk yang banyak dikunjungi orang. Sayang sekali bahwa tempat parkir kendaraan dan bangunan utama kuil dipisahkan oleh sebuah tembok tinggi yang praktis merusak pemandangan ke arah kelenteng, dan menyembunyikan keindahan di dalamnya.

Vihara Setia Budi - Medan
Hiolo Vihara Setia Budi dengan ornamen naga dan detail ukiran rumit. Ritual orang Cina, baik yang dilakukan di dalam rumah maupun di kelenteng, tidak bisa dipisahkan dengan hio dan hiolo (sebuah bejana berisi pasir tempat menancapkan batang hio). Hio bagi orang Cina adalah sama dengan bunga bagi orang barat.

Vihara Setia Budi - Medan
Beberapa buah patung singa yang terbuat dari batu dalam posisi duduk di Vihara Setia Budi Medan.

Vihara Setia Budi - Medan
Seorang wanita muda tengah berjalan ke arah hiolo untuk menancapkan batang hio ke dalam pasir setelah selesai melakukan sembahyang di Vihara Setia Budi Medan. Asap hio yang membubung tinggi ke angkasa merupakan simbol untuk mendekati para dewa yang bertahta di kerajaan langit nun tinggi di sana.

Vihara Setia Budi - Medan
Lilin-lin yang berwarna merah kuta, dari yang mulai yang kecil sampai yang berukuran sangat besar, selalu ditemukan di Vihara Setia Budi Medan ini. Memandang cahaya lidah api lilin yang bergoyang-goyang tersapu angin bisa sangat menyenangkan hati.

Vihara Setia Budi - Medan
Altar utama di dalam Vihara Setia Budi Medan untuk memuja Kwan Kong yang konon hidup di jaman Samkok (Tiga Negara). Kwan Kong adalah satu-satunya leluhur yang dipuja oleh para penganut dari tiga kepercayaan dalam masyarakat Cina.

Vihara Setia Budi - Medan
Sebuah tempat di Vihara Setia Budi Medan yang berbentuk memutar ke atas terbuat dari besi baja, yang mungkin melambangkan sebuag lintasan ke tingkat yang lebih tinggi untuk mendekati para dewa, terlihat dengan ornamen yang berpendar indah pada puncaknya.

Vihara Setia Budi - Medan
Sebuah patung naga dengan bentuk ukiran yang sangat indah di Vihara Setia Budi Medan.

Vihara Setia Budi - Medan
Altar sembahyang untuk memuja Dewa Kwan Kong di Vihara Setia Budi Medan. Ada begitu banyak cara untuk mendekat kepada Yang Mahakuasa, dan tidak satu pun orang bisa menjadi hakim untuk menentukan mana yang lebih baik dari yang lain. Ratusan bilik kecil menempel pada sebuah tempat oval yang bentuknya mengerucut ke atas.

Vihara Setia Budi - Medan
Altar Buddha di atas terletak tepat di belakang altar Kwan Kong Vihara Setia Budi Medan. Konon ketika Buddha Sakyamuni tengah menyebarkan ajaran kepada para pengikutnya di Cina, udara saat itu begitu panasnya sehingga banyak diantara pengikutnya yang tidak bisa berkonesntrasi dengan baik saat mendengarkan wejangannya dan jatuh tertidur. Beberapa pengikutnya lalu membakar kayu yang berbau wangi untuk mengharumkan ruangan dan meningkatkan konsentrasi para murid. Itulah asal muasal pemakaian hio dalam tradisi ritual masyarakat Cina.

Vihara Setia Budi - Medan
Tidaklah lazim bagi sebuah kelenteng untuk mendapatkan pengamanan sedemikian ketatnya dengan memasang tembok tinggi dengan kawat berduri di atasanya. Barangkali ini berhubungan dengan kerusuhan etnis yang pernah menghancurkan kota Medan beberapa tahun yang lalu.

Meskipun belum ditemukan informasi tentang kapan Vihara Setia Budi Medan ini dibangun, namun diketahui oleh masyarakat luas bahwa seorang pengusaha Cina Medan yang dermawan, yaitu Tjong A Fie (meninggal pada tahun 1921), juga ikut mendanai pembangunan Vihara Setia Budi ini.

Vihara Setia Budi

Jl. Irian Barat No. 26
Medan

Terkait Vihara Setia Budi Medan
Wisata Medan | Peta Wisata Medan | Hotel di Medan



Share on Facebook ~ Tweet ~ Print This! ~ Share via Email