Pulau Rubiah Nan Jelita di Iboih Sabang

Setelah puas menikmati suasana dan pemandangan Titik Nol Kilometer di Desa Iboih, Kota Sabang, kamipun meluncur menuju Pantai Iboih untuk menikmati suasana sore disana sambil mempersiapkan logistik untuk dibawa berpiknik besok ke Pulau Rubiah.

Di Iboih kami bermalam di sebuah bungalow tak bernama yang menghadap langsung ke Pulau Rubiah. Malam itu saya tidur diatas hammock yang diikat diluar bungalouw. Malam begitu indah, suara debur ombak rubiah terdengar bagai musik orkestra yang mengalun merdu digendang telinga, dan langit diatas pun tak mau ketinggalan berhias molek dengan bintang gemintangnya. Damai itu begitu terasa….


Pagi yang cantik dilihat dari balik hammock berlatar Pulau Rubiah

Jam 5.30 saya sudah dibangunkan oleh suara alarm, dari balik hammock saya mengintip keindahan Pulau Rubiah, matahari sudah menampakan dirinya di ufuk timur. Pagi yang indah. Doa syukur pun saya panjatkan buat anugerah yang begitu baik. Tepat jam 9 pagi kami sudah bersiap di dermaga, dan Fatwa membantu kami mencarikan perahu untuk ditumpangi menuju Pulau Rubiah.


Dermaga di Pantai Iboih. Tampak perahu-perahu yang akan mengantar kita menuju Pulau Rubiah, dua dibelakang adalah kapal kaca dengan kapasitas untuk 10-15 orang.

Disini berlaku HARI PANTANGAN MELAUT, dan itu harus di patuhi benar. Jadi jika ingin beraktivitas di laut harus selalu diingat hari pantangannya yaitu :

  1. Hari Kamis mulai jam 19:00 sampai hari Jumat jam 14:00
  2. Hari Raya Puasa (24 jam) jangan pernah ke Iboih pada bulan Ramadhan.
  3. Hari Raya Haji (24 jam)
  4. Kenduri Laot ( 3 x 24 jam)
  5. Hari Tsunami (jam 06:00 – 12:00) tgl 26 Desember
  6. Hari Raya Kemerdekaan (jam 06 :00 – 12:00) tgl 17 Agustus

Aktivitas yang dilarang adalah: snorkeling, menyelam, dan memancing, baik dari daratan maupun dermaga. Sedangkan Tapal Batas Pelarangan: Barat – Ujung Seu Gawan, dan Timur – Batee Dua Gapang.


Atap bungalow tempat kami menginap tepat menghadap ke Pulau Rubiah.

Kami sangat beruntung karena hari itu Selasa 21 Juni 2011 bukan hari pantangan melaut jadi kami bisa melihat kecantikan Pulau Rubiah dari dekat.

Dari dermaga Iboih menuju Pulau Rubiah hanya 10 menit berperahu, tapi bisa juga dengan berenang karena jarak yang begitu dekat. Saya dan Ikyu juga sempat mencoba berenang untuk sampai ke sana. Sambil menikmati keindah pemandangan bawah lautnya, terumbu karangnya tidak begitu banyak, tapi mata kami dimanjakan oleh ikan hias beraneka warna dengan ukuran yang cukup besar dalam jumlah yang banyak.

Buat Ikyu ini snorkelingnya yang pertama dan dia sangat beruntung baru pertama kali sudah mendapatkan pemandangan yang begitu spektakuler. Selain snorkeling, di sini juga bisa melakukan aktivitas menyelam, dan di sini tempatnya bagi pemula yang mau membuat sertifikat karena arusnya tidak begitu kuat. Menurut teman yang sudah melakukan penyelaman, pemandangan di bawah sana bagus sekali dengan aneka ikan serta berbagai biota laut lainnya.


Dari sini saya dan Ikyu mulai berenang menuju Pulau Rubiah, lautnya tenang tapi arus bawahnya cukup kuat sehingga di tengah jalan kami berdua sempat ditarik dengan tambang.

Di bawah permukaan laut saya bisa melihat serakan batu-batu besar sisa keganasan Tsunami. Saat terjadi Tsunami sebenarnya Sabang, terlebih Pulau Rubiah, tidak terkena dampaknya sama sekali karena dikelilingi pulau-pulau kecil, hanya saja air laut agak sedikit naik dari biasanya. Sayang saya tidak membawa kamera bawah air sehingga tidak dapat mengabadikan keindahan pemandangan di bawah laut sana.


Pantai Iboih dengan pasir putihnya.

Luas Pulau Rubiah hanya 2600 hektar. Pulau ini tidak berpenghuni, hanya dijaga oleh sepasang suami-istri bernama Pak Yahya dan Ibu Ismar, dan mereka tinggal disitu juga. Hanya ada satu bungalow dengan dua kamar, yang bisa disewakan untuk turis asing maupun lokal, cuma saya lupa menanyakan harga sewanya.

Pulau ini sangat tenang dan sunyi, aliran listrik cuma ada beberapa jam saja, yaitu dari jam 06:00 pagi sampai jam 12 siang.


Selamat datang di Pulau Rubiah.

Ada sebuah legenda tentang Pulau ini. Konon Pulau ini sengaja dibuat oleh para dewa sebagai tempat persembunyian untuk menolong seorang perempuan bernama Rubiah dan anjingnya yang setia dari kekejaman suaminya. Karena kasihan kepada Rubiah, para dewa menganugerahi tempat ini lengkap dengan taman laut yang menakjubkan dengan karang-karang yang indah serta ikan beraneka warna.

Rubiah juga dibuatkan sebuah teluk di belakang pulau dengan pasir putih yang lembut untuk tempat mandi dan mencuci rambutnya. Untuk menghindari supaya suami yang kejam itu tidak bisa melewati pulau, para dewa meletakan hiu-hiu ganas dan bulu babi di sekitar pulau. Tapi sekarang hiu dan bulu babinya sudah tidak ada lagi, hanya tinggal ikan-ikan cantik, karang-karang yang indah, serta pasir putihnya saja yang tertinggal.


Langit Biru, awan putih, dan perahu yang bisa disewa mengelilingi Pulau Rubiah.

Orang-orang Belanda zaman dulu juga sempat jatuh cinta dengan keelokan pulau ini, hingga sempat dijadikan sebagai tempat peristirahatan bagi para pembesarnya.

Pada tahun 1920 tempat ini sempat dijadikan sebagai tempat karantina bagi jemaah haji yang baru pulang dari Mekah. Tapi sayang tempat ini tidak dirawat dengan baik, sehingga kayu-kayunya banyak yang lapuk dimakan rayap.

Menurut pemandu kapal kami, pada tahun 2004 tempat itu sempat di renovasi oleh pemerintah daerah. Sayangnya pemerintah tidak memiliki agenda yang jelas mau diapakan setelah direnovasi. Padahal jika dikelola dengan baik, tempat ini juga bisa dijadikan sebagai lokasi wisata sejarah bagi penduduk setempat atau wisatawan yang datang dari luar daerah.


Bangunan karantina Haji di Pulau Rubiah yang kami temukan secara tidak sengaja

Sayapun tahu tempat ini setelah kunjungan yang kedua. Itu pun tanpa sengaja karena kami harus berpindah tempat snorkeling ke belakang pulau, dan saya memutuskan untuk berjalan kaki merambah hutan di pulau itu, ketimbang naik perahu. Kalau saja tidak berjalan kaki, mungkin sampai sekarang saya tidak tahu kalau ada tempat bersejarah seperti ini disini…. So thanks God for that, untungnya temen-2 saat itu mau diajak untuk bersusah-susah :-)


Pemandangan Teluk dibelakang Pulau Rubiah.

Ongkos perahu menyebrang ke Rubiah hanya Rp. 20.000 / orang pp, dengan sistem antar jemput. Dijemputnya tergantung permintaan penumpang mau sampai jam berapa. Bisa juga dengan menyewa perahu kaca, harga sewa Rp. 350.000 untuk setengah hari, dan Rp. 750.000 untuk satu hari penuh untuk kapasitas 10-15 orang.

Pulau Rubiah

Desa Iboih, Sabang
Nanggroe Aceh Darussalam
GPS: 5.881766, 95.2593049

Terkait
Tempat Wisata di Sabang, Hotel di Sabang

Bagi di FacebookTweetPrint!