Prasasti Ciaruteun Bogor

Setelah meninggalkan Prasasti Tapak Gajah, perjalanan pun diteruskan untuk mencari situs Prasasti Ciaruteun pada 23 Juni lalu itu. Lambat bertanya, dan petunjuk situs yang kurang begitu jelas, membuat saya tersesat sampai melewati sebuah jembatan, sehingga harus berbalik dan lalu berjalan dengan hati-hati untuk mengamati tengara di tepi jalan.

Ketika menemukan tengara Prasasti Ciaruteun yang sudah berkarat di tepi jalan, seorang pria yang ternyata penjaga Prasasti Ciaruteun menghampiri, dan lalu menemani ke lokasi prasasti yang berada sekitar 100 meter dari tepi jalan. Pria itu bernama Pak Atma, anaknya pak Anin yang menjadi penjaga situs sebelumnya yang ikut mengangkat batu prasasti dari kali Ciaruteun.

Prasasti Ciaruteun oleh penduduk setempat lebih dikenal sebagai prasasti batutulis. Mereka tidak mengerti ketika saya bertanya dimana letak Prasasti Ciaruteun, karena yang mereka tahu adalah Batutulis. Nama batutulis tentu saja tidak bisa dipakai lagi sebagai nama resmi, karena akan rancu dengan Prasasti Batutulis yang ada di Bogor.

prasasti ciaruteun bogor
Pemandangan pada bangunan cungkup dimana batu Prasasti Ciaruteun disimpan, dengan jalan masuk dipagar dan digembok, yang kuncinya dipegang oleh penjaga situs. Jalan masuk ke cungkup ini mestinya bisa dibuat dari belakang cungkup, sehingga pengunjung tidak perlu berjalan memutar terlebih dahulu untuk masuk ke situs Prasasti Ciaruteun ini.

Di dalam situs ini terdapat sebuah tengara yang menunjukkan tanggal peresmian cungkup Prasasti Ciaruteun yang dilakukan oleh Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Secara umum, cungkup dimana prasasti berada dalam kondisi yang cukup baik, dan batu prasastinya juga terlihat bersih dan cukup terawat.

prasasti ciaruteun bogor
Penampakan pada batu Prasasti Ciaruteun yang permukaannya ditatah dengan aksara Pallawa Jawa Kuno yang tersusun dalam bentuk seloka Sansekerta dengan metrum Anustubh empat baris. Di bawah torehan tulisan itu terdapat pahatan berupa gambar umbi dan sulur-sulur, ada pula lekukan sepasang telapak kaki dan sebuah pahatan laba-laba.

Sayangnya ada bagian permukaan batu prasasti yang telah somplak pada salah satu sisi Prasasti Ciaruteun, karena ketika masih terbenam di dalam sungai Ciarunteun, para penduduk pemecah batu sempat memecahkan tepi batu Prasasti Ciaruteun, namun tidak diteruskan ketika mereka melihat lekukan tapak kaki dan deretan huruf yang aneh.

Salinan tulisan Prasasti Ciaruteun ditempel pada dinding cungkup, yang berbunyi: “Vikkranta syavani pateh, srimatah Purnawarmanah, Tarumanagarendrasya, visnoriva padadvayam.”, yang berarti “Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma yang gagah berani di dunia.”

ciaruteun3
Dua telapak kaki yang terpahat sangat jelas di atas batu Prasasti Ciaruteun. Pahatan telapak kaki pada Prasasti Ciaruteun melambangkan kekuasaan raja atas daerah dimana prasasti ditemukan. Prasasti Ciaruteun ini, yang merupakan peninggalan kerajaan Tarumanagara, ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, yang diapit sungai Cisadane dan Cianten.

Ketika batu ini masih berada di tepian kali, di bagian belakang Prasasti Ciaruteun ditemukan coretan anak-anak muda yang iseng di beberapa permukaannya. Bagian kanan batu prasasti juga ditemukan dalam keadaan somplak. Beruntung prasasti bisa segera diselamatkan sehingga tidak mengalami kerusakan dan vandalismen yang lebih parah.

Ketika hendak meninggalkan lokasi, saya melihat ada kakak beradik tengah mendaki dari arah kali Ciarunteun sambil membawa jerigen. Kali Ciarunteun adalah tempat batu Prasasti Ciaruteun ditemukan. Keberadaan prasasti pertama kali dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Weten-schappen (sekarang Museum Nasional) pada 1863.

Batu Prasasti Ciaruteun hanyut beberapa meter ke arah hilir ketika terjadi banjir besar pada 1893, sehingga permukaan yang bertulis ada di bawah. Pada 1903, batu prasasti dipindahkan ke tempatnya semula. Baru pada 1981, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Dept P&K berinisiatif memindahkan batu Prasasti Ciaruteun.

Menurut penjaga, perlu 30 hari untuk memindahkan batu ke tempatnya sekarang. Batu Prasasti Ciaruteun seberat 8 ton ini per jam-nya bergerak 5 cm, atau 50 cm dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Sehari tiga grup mengangkat batu secara bergantian, dengan masing-masing 6 orang. Mereka mendapat upah Rp.1.500 per orang per hari, ketika beras Rp.70 per kg.

Prasasti Ciaruteun selengkapnya: 4.Tengara 5.Prasasti 6.Salinan 7.Pallawa 8.Batu Prasasti 9.Bagian Belakang 10.Cungkup 11.Kali 12.Halaman

Prasasti Ciaruteun

Desa Ciaruteun Hilir, Kec Cibungbulang, Bogor (Peta)
Terdekat: Prasasti Tapak Gajah (100 m) . Prasasti Batu Dakon (100 m)
Tempat Wisata di Bogor. Peta Wisata Bogor. Hotel di Bogor . Prasasti Ciaruteun

Bagi via: Facebook . Twitter . Google+1 . Email . Print!
.