Prasasti Ciaruteun Bogor, 1

Share . Tweet . Whatsapp . Google+1 . Print!

Setelah dari Prasasti Tapak Gajah, perjalanan diteruskan ke Prasasti Ciaruteun Bogor. Lambat bertanya, dan petunjuk situs yang kurang jelas, membuat saya tersesat sampai diĀ  jembatan, sehingga harus berbalik dan lalu berjalan dengan hati-hati untuk mengamati tengara di tepi jalan.

Saat menemukan tengara berkarat di tepi jalan, seorang pria yang ternyata kuncen menghampiri, dan lalu menemani ke situs yang berada 100 m dari tepi jalan. Pria itu Ki Atma, anaknya Ki Anin yang jadi penjaga situs sebelumnya dan ikut mengangkat batu prasasti dari kali Ciaruteun.

Prasasti ini oleh penduduk setempat lebih dikenal sebagai batutulis. Mereka tidak mengerti ketika saya bertanya dimana Prasasti Ciaruteun Bogor berada, karena yang mereka tahu adalah batutulis. Nama batutulis tentu saja tidak bisa dipakai lagi sebagai nama resmi, karena akan rancu dengan Prasasti Batutulis yang ada di Bogor.

prasasti ciaruteun bogor1/12. Cungkup Prasasti
Pemandangan pada cungkup dimana batu Prasasti Ciaruteun Bogor disimpan, dengan jalan masuk dipagar dan digembok, yang kuncinya dipegang oleh penjaga situs. Jalan masuk ke cungkup ini mestinya bisa dibuat dari belakang cungkup, sehingga pengunjung tidak perlu lagi berjalan memutar terlebih dahulu untuk masuk ke situs prasasti ini.

Di dalam situs bersejarah ini terdapat sebuah tengara yang menunjukkan tanggal peresmian cungkup yang dilakukan Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Secara umum, cungkup dimana prasasti disimpan terlihat masih dalam kondisi yang cukup baik, dan batu prasastinya juga terlihat bersih dan cukup terawat. Satu hal yang cukup menggembirakan, karena lokasinya boleh dibilang jauh dari pusat kota.

prasasti ciaruteun bogor2/12. Seloka
Penampakan pada batu Prasasti Ciaruteun Bogor yang permukaannya ditatah dengan aksara Pallawa Jawa Kuno yang tersusun dalam bentuk seloka Sansekerta dengan metrum Anustubh empat baris. Di bawah torehan tulisan itu terdapat pahatan berupa gambar umbi dan sulur-sulur, ada pula lekukan sepasang telapak kaki dan sebuah pahatan laba-laba.

Sayangnya ada bagian permukaan batu prasasti yang telah somplak pada salah satu sisi prasasti, karena ketika batunya masih terbenam di dalam Sungai Ciarunteun, para penduduk pemecah batu sempat memecahkan tepi batu prasasti ini, namun tidak diteruskan ketika mereka melihat lekukan tapak kaki dan deretan huruf yang aneh.

prasasti ciaruteun bogor3/12. Salinan Tulisan
Salinan tulisan Prasasti Ciaruteun Bogor ditempel pada dinding cungkup, yang berbunyi: “Vikkranta syavani pateh, srimatah Purnawarmanah, Tarumanaga rendrasya, visnoriva padadvayam.”, yang berarti “Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma yang gagah berani di dunia.”

Ketika batu peninggalan itu masih berada di tepian kali, di bagian belakang batu ditemukan coretan anak-anak muda yang iseng di beberapa permukaannya. Bagian kanan batu prasasti juga ditemukan dalam keadaan somplak. Beruntung prasasti bisa segera diselamatkan sehingga tidak mengalami kerusakan dan vandalisme yang lebih parah.

prasasti ciaruteun bogor4/12. Tapak Kaki
Dua telapak kaki yang terpahat sangat jelas di atas batu prasasti. Pahatan telapak kaki pada Prasasti Ciaruteun Bogor melambangkan kekuasaan raja atas daerah dimana prasasti ditemukan. Prasasti ini, yang merupakan peninggalan kerajaan Tarumanagara, ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, yang diapit sungai Cisadane dan Sungai Cianten.

Saat hendak meninggalkan lokasi, saya melihat ada kakak beradik tengah mendaki dari arah kali Ciarunteun sambil membawa jerigen. Kali Ciarunteun adalah tempat batu prasasti ditemukan. Keberadaan prasasti pertama kali dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Weten-schappen (sekarang Museum Nasional) pada 1863.

Prasasti Ciaruteun Bogor sempat hanyut beberapa meter ke arah hilir ketika terjadi banjir besar pada 1893, sehingga permukaan yang bertulis ada di bawah. Pada 1903, batu dipindahkan ke tempatnya semula. Baru pada 1981, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Dept P&K berinisiatif memindahkan batu prasasti ini.

Menurut penjaga, perlu 30 hari untuk memindahkan batu ke tempatnya sekarang. Batu prasasti seberat 8 ton ini per jam-nya bergerak 5 cm, atau 50 cm dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Sehari tiga grup mengangkat batu secara bergantian, dengan masing-masing 6 orang. Mereka mendapat upah Rp.1.500 per orang per hari, ketika beras Rp.70 per kg.


Author: Bambang Aroengbinang
Kategori: Bogor Kabupaten. Tag: . Pos lalu: . Pos baru:

Share . Tweet . Whatsapp . Google+1 . Print!