Patung Proklamator Soekarno-Hatta

Beberapa perkataan bijak melintas di kepala saat melihat Patung Proklamator Soekarno-Hatta, apakah yang berada di Monumen Soekarno Hatta yang berada di Jl. Proklamasi, Jakarta, atau pun Patung Proklamator Soekarno-Hatta yang berada di pintu masuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta (lihat Peta).

Saya adalah orang Indonesia dari keturunan Jawa, dan seorang penduduk dunia. Itulah salah satu “sumpah” yang saya tulis di Sumpah Aroengbinang. Saya tidak meminta untuk dilahirkan sebagai orang Jawa atau orang Indonesia, dan karenanya saya menerimanya sebagai sebuah kenyataan hidup, dan kenyataan itu netral. Sebagai orang Indonesia keturunan Jawa, saya belajar beberapa kebijaksanaan Jawa, diantaranya: “mikul dhuwur, mendhem jero” dan “tepo sliro”.

Yang disebut pertama sangat populer dan dikutip oleh banyak orang, baik yang mendukung maupun yang menolaknya, khususnya setelah runtuhnya kekuasaan rejim Orde Baru. Saya masih diantara mereka yang mendukung, tanpa menyatakan bahwa sayalah yang benar dan mereka yang menolaknya salah.

Ketika Soekarno kehilangan kekuasaannya, dan Soeharto mengambil alih kendali negara, para pelajar dan berbagai elemen masyarakat menuntuk Soeharto untuk membawa Soekarno ke Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) sebagaimana dimandatkan oleh MPR untuk diadili. Soeharto menolak tuntutan itu, dan tidak pernah membawa Soekarno ke pengadilan sampai akhir hayatnya.

Soeharto menerima perlakuan sama ketika tidak lagi berkuasa, meskipun ada tekanan yang sangat besar kepada pemerintah untuk membawa Soeharto ke pengadilan. Saya sebut ini adalah sebuah cara orang Indonesia, atau cara Jawa jika anda meu menyebutnya begitu, tentang bagaimana memperlakukan orang tua atau pemimpinnya, khususnya dalam kasus seperti Soekarno dan Soeharto.

Tidak ada satu resep yang berlaku untuk semua situasi, tidak peduli apakah konsep itu berasal dari barat atau timur. Beberapa orang cenderung melihat bahwa barat adalah yang terbaik, dan nilai serta sistemnya bisa berlaku di mana pun di dunia ini. Yang lainnya berkata bahwa timur yang terbaik. Saya katakan barat dan timur sama-sama terbaik. Bergantung kepada situasinya.

“Mikul dhuwur mendhem jero” berarti bahwa orang dianjurkan untuk melihat sisi baik dan mengubur sisi gelapnya dalam-dalam, terutama jika orang itu telah meninggal. Sedangkan “Tepo Sliro” adalah sebuah etika timbal balik, atau Aturan Emas: perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Beberapa orang lebih suka dengan Aturan Platinum: perlakukan orang lain dengan cara yang mereka inginkan.

Patung Proklamator Soekarno-HattaPatung Proklamator Soekarno-Hatta yang berada di gerbang Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten. Patung itu diresmikan oleh Presiden SBY pada Rabu, 29 Agustus, 2008. Monumen ini dirancang dan dibuat oleh Sunaryo, seorang perupa patung terkenal dari Bandung, yang juga merancang dan membuat Patung Jenderal Sudirman yang berada di Jl. Sudirman, Jakarta.

Patung Proklamator Soekarno-HattaPatung Proklamator Soekarno-Hatta dengan Patung Soekarno berdiri setinggi 7,8 meter, sedangkan patung Hatta sedikit lebih pendek. Dasar Patung Proklamator Soekarno-Hatta ini tingginya 4,8 meter, dengan tinggi keseluruhan 12,6 meter.

Patung Proklamator Soekarno-Hatta
Meskipun dalam kehidupan nyata kedua tokoh penting ini terpisah sangat lama karena pandangannya yang berbeda tentang bagaimana mengelola negara ini, namun mereka selalu bersama dan disatukan dalam pikiran banyak orang Indonesia, seperti pada Patung Proklamator Soekarno-Hatta ini.

Patung Proklamator Soekarno-Hatta
Ini adalah patung Garuda Wisnu yang berada di tempat parkir bandara Soekarno Hatta. Tidak ada informasi siapakah yang membuat patung ini.

Patung Proklamator Soekarno-Hatta
Patung lain, yang tampak seperti sebuah patung Asmat, yang juga berada di area parkir bandara Soekarno-Hatta.

Bandara Soekarno-Hatta tidaklah semodern dan senyaman bandara di negara tetangga, meskipun ada juga pujian bahwa bandara ini mempertahankan ciri arsitektur setempat. Kita bisa menunggu beberapa tahun lagi, jika itu menyangkut penampilan fisik, karena mungkin ada prioritas lain yang lebih penting.

Namun ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pengelola bandara sekarang ini untuk memperbaiki berbagai pelayanan di bandara agar lebih efisien, menyenangkan, ramah dan lebih aman bagi para penumpang. Hanya dengan itulah kita bisa menjadikan Soekarno-Hatta sebagai sebuah bandara yang bisa dibanggakan oleh orang Indonesia.

Akan halnya kata-kata bijak itu, suka atau tidak, mereka akan tetap ada di sana dan akan terus berfungsi sebagai petunjuk di masa-masa sulit. Beberapa orang yang menuntut Soekarno untuk dibawa ke pengadilan pada tahun 1966, mungkin sekarang telah lebih bijak dan merasa bersyukur bahwa tuntutannya itu tidak pernah terlaksana. Hidup begitu singkat, dan kenangan bertahan sedikit lebih lama dari itu.

Patung Proklamator Soekarno-Hatta

Gerbang Masuk di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang (lihat Peta)

Wisata Terdekat Patung Proklamator Soekarno-Hatta

Masjid Raya Al A’zhom (14,1 km) | Bendungan Pintu Air Sepuluh (15,8 km) | Masjid Pintu Seribu (18,9 km) | Taman Buaya Tanjung Pasir (19,9 km)

Terkait Patung Proklamator Soekarno-Hatta
Hotel di Tangerang, Peta Wisata Tangerang, Tempat Wisata di Tangerang



Share on FacebookTweetPrint This!