Patung Monginsidi dan Pierre Tendean Manado

Patung Wolter Monginsidi dan Patung Pierre Tendean ini terletak bersebelahan di sebuah area yang berbentuk segitiga, yang diapit oleh Jl. Bethesda dan Jl. Pierre Tendean di sebelah kiri dan kanannya, dengan titik puncak segitiganya berada di Jl. Wolter Monginsidi, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Di ujung Jl. Pierre Tendean, setelah kunjungan ini, saya sempat memotret suasana Senja di Manado.

Patung Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean
Taman berbentuk segitiga dimana Patung Wolter Monginsidi dan Patung Pierre Tendean berada. Harus saya sebutkan bahwa meskipun lingkungan sekeliling taman pada foto di atas masih belum bisa dikatakan baik, namun foto aslinya lebih tidak sedap dipandang mata lagi, karena banyaknya kabel-kabel bergelantungan dan tiang listrik yang merusak pemandangan.

Patung Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean
Posisi Patung Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean berada di sebelah kiri dari Patung Wolter Monginsidi. Pierre lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939, sebagai satu-satunya putera lelaki A.L. Tendean, seorang dokter berdarah Minahasa, dan Cornel M.E. yang berdarah Belanda – Perancis.

Patung Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean
Pierre adalah ajudan Jenderal (Besar) Abdul Harris Nasution yang menjabat sebagai Menko Hankam/Kepala Staf ABRI pada jaman Soekarno. Sementara Nasution lolos dari penculikan PKI pada peristiwa Gerakan 30 September, Pierre ditangkap dan dibunuh di Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965 dalam usianya yang baru 26 tahun. Pierre Tendean dianugerahi gelar kehormatan Pahlawan Revolusi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Patung Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean
Robert Wolter Mongisidi adalah putera Minahasa yang lahir di Malalayang, Manado, pada 14 Februari 1925, sebagai putera dari Petrus Monginsidi dan Lina Suawa.

Pada 17 Juli 1946, Wolter Monginsidi bersama dengan Ranggong Daeng Romo dan beberapa pejuang lain membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang terus menerus mengganggu dan menyerang posisi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia seusai Perang Dunia II.

Patung Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean
Wolter Monginsidi ditangkap oleh tentara Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil melarikan diri pada 27 Oktober 1947. Namun tentara Belanda berhasil menangkapnya lagi dan Wolter Monginsidi dijatuhi hukuman mati. Monginsidi dieksekusi dihadapan sekelompok regu tembak pada 5 September 1949 di Pacinang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada usia 24 tahun.

Wolter Monginsidi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1973, dan pada 10 November 1973 dianugerahi gelar kehormatan tertinggi Bintang Mahaputra (Adipradana), yang diterima ayahandanya yang ketika itu berusia 80. Namanya diabadikan sebagai nama Bandara di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan nama sebuah kapal perang TNI AL, KRI Wolter Monginsidi. Wolter Monginsidi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Makassar.

Patung Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean

Berada di sebuah taman yang diapit oleh Jl. Bethesda dan Jl. Pierre Tendean di kiri dan kanannya, dengan titik puncak segitiganya Jl. Wolter Monginsidi, Kota Manado, Sulawesi Utara.
GPS:1.46313, 124.82726

Terkait Patung Monginsidi dan Pierre Tendean Manado
Tempat Wisata di Manado, Hotel di Manado, Kuliner di Manado, Peta Wisata Manado

Share on FacebookTweetPrint!

This entry was tagged