Pamuksan Sri Aji Joyoboyo

Pamuksan Sri Aji Joyoboyo atau Petilasan Sri Aji Joyoboyo adalah tempat berikutnya di Kediri yang kami kunjungi setelah meninggalkan Arca Totok Kerot, melewati daerah persawahan, gerumbul dan perkampungan. Jarak kedua situs ini sekitar 2,7 km atau 6 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Di samping gerbang masuk Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini terdapat sebuah tempat parkir tertutup yang cukup untuk beberapa buah mobil.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Tulisan di gerbang masuk Pamuksan Sri Aji Joyoboyo itu berbunyi “Mustika Pamenang, Petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojobojo”. Dalam kisah Jawa, Jayabaya (dibaca: Joyoboyo) adalah titisan Dewa Wisnu, penguasa negara Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayah Joyoboyo bernama Gendrayana, yang adalah anak Yudayana, anak Parikesit, anak Abimanyu, anak Arjuna dari Pandawa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara, yang darinya lahir Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya kemudian menurunkan raja-raja tanah Jawa, dari Kerajaan Majapahit sampai Mataram Islam. Sedangkan Dewi Pramesti menikah dengan Astradarma, Raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma, Raja Malawapati.

Tulisan pada gapura di gerbang masuk kedua Pamuksan Sri Aji Joyoboyo yang juga berbunyi “Petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojobojo”. Kata petilasan ini ‘dikoreksi’ oleh Juru Kunci situs ini, karena sebuah petilasan adalah tempat dimana seseorang pernah tinggal dan lalu pergi dari tempat itu ke tempat lain. Sedangkan situs itu dipercaya sebagai tempat ‘muksa’ (hilang lenyap bersama jasadnya) Joyoboyo, dan konon jiwa Sang Raja masih berada di tempat itu.

Sebuah tengara yang menceritakan sejarah singkat Pamuksan Sri Aji Joyoboyo. Beginilah seharusnya yang dilakukan oleh dinas terkait setempat pada situs-situs lainnya, yang membuat pengunjung bisa lebih mengenal situs yang mereka kunjungi.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Kuncen Pamuksan Sri Aji Joyoboyo, berpeci dan berkacamata, tengah berbincang dengan mas Sanusi seputar situs ini. Di belakangnya adalah nara sumber lainnya yang dalam beberapa hal tampak lebih banyak tahu ketimbang sang Kuncen. Pak Kuncen ini meskipun gaya bicaranya sering sarkastik, namun cukup membantu dan kadang memancing tawa.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Bangunan di tengah situs inilah yang dipercaya sebagai tempat Pamuksan Sri Aji Joyoboyo, yang terbagi tiga tempat yang mewakili tiga fase muksa Joyoboyo, yaitu Loka Mukso, Loka Busana, dan Loka Makuta. Loka Muksa merupakan tempat muksa atau hilangnya Joyoboyo bersama jasadnya, Loka Busana adalah tempat singgah busana Sang Prabu, dan Loka Makuta berarti tempat pelepasan mahkota raja.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Sebuah tengara di Pamuksan Sri Aji Joyoboyo yang menceritakan tentang pemugaran situs ini oleh Keluarga Besar Hondodento dari Yogyakarta pada 22 Februari 1975, dan diresmikan pada 17 April 1976.

Sebelumnya situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini hanya berbentuk sebuah gundukan tanah. Sampai suatu saat, di tahun 1860, seorang penduduk Desa Menang bernama Warsodikromo bermimpi bahwa di area gundukan tanah itu pernah hidup seorang raja Kediri yang bernama Joyoboyo.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Lita Jonathans, pendiri dan pemilik La Lita Arts & Crafts serta pemilik Villa La Lita, terlihat tengah berbincang dengan Kuncen Pamuksan Sri Aji Joyoboyo di pendopo di situs yang terawat dengan baik ini.

Seorang pria tampak tengah tidur di bawah rindang pepohonan di depan situs Situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo untuk mengalap berkah. Mereka yang percaya bahwa situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini bisa membantu memperoleh apa yang mereka inginkan, bisa bertirakat di situs ini selama beberapa hari. Pejabat dan calon pejabat pun tidak ketinggalan mengalap berkah di situs seluas 1.650 meter persegi ini.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Loka Busana di Pamuksan Sri Aji Joyoboyo dengan ornamen indah yang berada di sebelah kanan dari Loka Muksa, di dalam pagar dengan kawat berduri, mungkin untuk mencegah peziarah tidur di tempat itu atau mencongkel batu untuk dijadikan jimat.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Loka Muksa di latar belakang, dengan latar depan Loka Busana, yang dipagari beton segi empat berlubang. Di dalam bangunan Loka Muksa Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini terdapat lingga dan yoni yang menyatu dengan sebuah batu bulat berlubang yang menyerupai mata yang disebut manik.

Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Tiga buah lubang pintu di Loka Muksa Pamuksan Sri Aji Joyoboyo yang melambangkan tiga tahap kehidupan manusia yang dimulai dari lahir, dewasa, dan lalu mati. Di latar belakang adalah manik yang menyatu dengan lingga – yoni (kelamin pria – wanita, lambang kesuburan dan kehidupan lahir dan batin).

Batu manik Pamuksan Sri Aji Joyoboyo melambangkan kewaskitaan Sri Aji Joyoboyo, memadukan nalar, rasa dan jiwa, dengan lubang tembus yang menunjukkan kemampuan melihat jauh ke masa depan.

Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Loka Makuta yang terletak terpisah di belakang Pamuksan Sri Aji Joyoboyo, dengan bentuk mahkota raja di bagian tengahnya.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah Raja Jawa yang konon sering berkunjung ke leluhurnya di situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini untuk berziarah. Ketika datang, HB IX selalu berjalan jongkok dari pendopo menuju ke Loka Muksa, layaknya tengah menghadap seorang raja yang masih hidup.

Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Relief Kala tanpa rahang bawah pada atap bagian dalam pendopo Pamuksan Sri Aji Joyoboyo, yang menunjukkan pengaruh Hindu dari Jawa Tengah. Kala atau Banaspati dari Jawa Timur biasanya lengkap dengan rahang bagian bawah. Kala adalah dewa penguasa waktu, putera Dewa Siwa, yang umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci dan dipercaya sebagai penolak kekuatan jahat.

Sri Aji Joyoboyo adalah Raja Kediri yang memerintah antara 1135-1157. Ia konon berhasil menyatukan kembali Jenggala yang dipisahkan oleh Airlangga, Raja Kahuripan, pada 1042 saat Airlangga turun tahta dan menjadi pendeta dengan gelar Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana (Prasasti Gandhakuti, 1042).

Sri Aji Joyoboyo terkenal dengan kitab “Jongko Joyoboyo” yang berisi ramalan-ramalan kejadian di Pulau Jawa sejak jaman Aji Saka sampai sampai datangnya hari kiamat. Naskah yang didalamnya berisi “Ramalan Joyoboyo” diantaranya adalah Serat Jayabaya Musarar dan Serat Pranitiwakya. Jayabaya turun takhta pada usia tua dan dipercayai moksa di desa Menang, dimana Pamuksan Sri Aji Joyoboyo kini berada.

Pamuksan Sri Aji Joyoboyo

Desa Menang, Kecamatan Pagu
Kabupaten Kediri, Jawa Timur
GPS:-7.77948, 112.08003 (lihat Peta)

Terkait Pamuksan Sri Aji Joyoboyo
Tempat Wisata di Kediri, Peta Wisata Kediri, Hotel di Kediri. Tulisan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo dari sumber lain bisa dibaca di sini.



Share on Facebook ~ Tweet ~ Print This! ~ Share via Email