Museum Satria Mandala Jakarta

Museum Satria Mandala Jakarta adalah museum yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia yang letaknya di Jl. Gatot Subroto 14-16, Jakarta Selatan. Museum ini memamerkan berbagai jenis persenjataan darat dan udara, ringan dan berat, diorama, serta perlengkapan militer lainnya yang digunakan dalam berbagai peristiwa dan operasi militer.

Di luar gedung dipajang berbagai kendaraan militer, mulai dari jeep versi militer, truk pengangkut pasukan, tank, tank amfibi, kendaraan lapis baja, meriam penangkis kapal udara, roket, sampai pesawat tempur. Di dalam gedung terdapat diorama sejarah perkembangan TNI, perannya dalam menegakkan kemerdekaan dan era sesudahnya.

Diorama Museum Satria Mandala Jakarta merupakan karya Edhi Sunarso, pematung kelahiran Salatiga lulusan ASRI 1955. Ia juga yang membuat diorama di Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya dan di Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ia pula yang membuat Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan Patung Dirgantara di Tebet.

museum satria mandala jakarta
Pada halaman depan Museum Satria Mandala Jakarta terdapat sebuah Bendera Merah Putih yang dikerek di puncak tiang tinggi diapit oleh dua buah meriam artileri pertahanan udara. Halaman depan museum ini sangat luas dan dinaungi oleh pepohonan yang rindang. Di halaman sebelah itu kendaraan pengunjung diparkir, selain di halaman samping yang juga teduh.

Ketika memasuki ruang museum, terlihat foto perjuangan kemerdekaan, benda bersejarah, dan diorama. Salah satu diorama menggambarkan peristiwa 23 Agustus 1945, yaitu dibentuknya Badan Keamanan Rakyat dari Laskar Rakyat (Seinendan, Gokutotai, dll), PETA (Pembela Tanah Air), dan KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indie Leger). BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat pada 5 Oktober 1945, yang diperingati sebagai hari lahir TNI.

museum satria mandala jakarta
Diorama di Museum Satria Mandala yang menggambarkan pertempuran heroik di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Invasi besar-besaran Sekutu ke Surabaya bermula dari serangkaian ketegangan dengan para pejuang, yang memuncak pada tewasnya BrigJen AWS Mallaby di sekitar Jembatan Merah. Jasad Mallaby dikubur di Makam Perang jakarta.

Di salah satu ruangan museum tersimpan kursi tandu di yang dahulu digunakan untuk mengangkut Jenderal Soedirman ketika bergerilya melawan tentara Belanda semasa perang kemerdekaan. Jenderal Soedirman memimpin gerilya selama delapan bulan antara tahun 1948-1949, dengan menempuh jarak sekitar 1000 km di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

museum satria mandala jakarta
Salah satu mitraliur koleksi Museum Satria Mandala Jakarta, yang meskipun tanpa peluru dan tak lagi digunakan namun masih tampak garang. Di dekatnya terdapat sejumlah koleksi senjata tempur lainnya berupa senapan mesin, pelontar granat, meriam lapangan, dan persenjataan militer lainnya. Beberapa persenjataan berat milik TNI juga disimpan di museum ini.

Dua buah torpedo kapal selam berbaling-baling berukuran besar dan panjang ikut pula dipajang. Meriam anti pesawat terbang juga ada, diletakkan tidak jauh dari ranjau laut berbentuk bola besar yang bergerigi di permukaannya. Senapan mesin yang dipasang di kapal perang juga ada. Senapan dan pestol bisa pula ditemui di sana.

museum satria mandala jakarta
Sebuah tank ringan yang masih tampak garang dan dalam kondisi yang cukup baik bisa dijumpai di area pamer luar Museum Satria Mandala Jakarta. Ada pula Tank Amfibi dan kendaraan pengangkut pasukan yang pernah digunakan korps marinir dalam Operasi Trikora dan penumpasan G30S-PKI. Juga tubuh yang panjang dan garang dari kendaraan tempur PANSROD BTR 152.

Beberapa contoh tank berukuran besar yang juga dipajang di tempat terbuka di luar gedung. Sebuah mobil Jeep tua juga saya lihat. Jeep ini pernah dipakai Jenderal Soedirman dan diberikan ke dokter pribadinya bernama Koesen Hirohoesodo sebagai penghargaan atas kesetiaan mendampinginya selama memimpin perang gerilya.

Koleksi menarik lainnya adalah kendaraan tempur dengan persenjataan berat beroda ganda, dengan ban karet di roda depan dan belakang, serta roda besi ditengahnya. Di belakang gedung museum ada gedung lain yang menyimpan patung-patung pahlawan dan mantan petinggi TNI, termasuk patung Jenderal Sudirman yang terbuat dari perunggu.

Di halaman belakang ada koleksi persenjataan berat berupa artileri pertahanan udara serta peluru kendali yang sudah dinonaktifkan. Koleksi pesawat terbang disimpan di bagian samping belakang museum. Pesawat dengan mulut bergambar moncong ikan hiu adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan Marsekal Udara Agustinus Adi Sucipto.

Museum Satria Mandala Jakarta merupakan tempat wisata museum militer yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh seluruh anggota keluarga. Di sini pengunjung bisa melihat dari jarak yang sangat dekat berbagai perlengkapan tempur yang mungkin sulit untuk bisa dijumpai di tempat-tempat lain. Mudah-mudahan kondis dan koleksinya sudah semakin baik lagi.

Galeri Foto: 05 s/d 38
Museum Satria Mandala Jakarta, Jl. Gatot Subroto 14-16, Jakarta. GPS -6.230785, 106.819195. Telp 021-5227946, 5227545, 52251795. Fax: 021-5221859. Jam buka Selasa s/d Minggu 09.00 – 14.30. Senin dan hari besar tutup. Harga tiket masuk Rp.1.500, Rp.750 untuk anak. Bus Rp.5.000, mobil Rp.2.000, sepeda motor Rp.1.000. Tempat Wisata di Jakarta, Peta Wisata Jakarta, Hotel di Jakarta Selatan.
Bambang Aroengbinang

Tulisan Yang Mungkin Anda Suka