Museum Palagan Ambarawa Semarang

Museum Palagan Ambarawa adalah tempat yang saya kunjung setelah meninggalkan Candi Gedong Songo, setelah sebelumnya mencoba menikmati sarapan dengan menu makanan setempat, yaitu nasi pecel di  terminal kota Ambarawa. Sayang warung tersebut tutup. Tampaknya satuan Kostrad setempat sedang mengadakan acara pertemuan dengan memesan menu nasi pecel Ambarawa.

Beruntung supir mobil sewaan bisa mendapatkan info mengenai tempat makan alternatif yang lokasinya tidak begitu jauh dari Museum Palagan Ambarawa.

Museum Palagan Ambarawa
Dengan gaya lesehan inilah menu makan pagi khas setempat yang bisa memuaskan dengan baik selera makan saya yang sederhana. Selesai dengan urusan perut, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Palagan Ambarawa yang terletak di satu tempat di tengah kota. Kota Ambarawa berada sekitar 35 km dari Semarang menuju ke arah Selatan.

Setelah membayar tiket masuk, saya diantar oleh salah satu petugas masuk ke dalam Museum Palagan Ambarawa.

Museum Palagan AmbarawaMuseum Palagan Ambarawa ini memiliki sejumlah koleksi senjata yang digunakan pada saat pertempuran atau Palagan Ambarawa.

Itu adalah peristiwa pertempuran antara Tentara Keamanan Rakyat Indonesia (sekarang TNI) bersama sekolompok pejuang kemerdekaan Indonesia di satu sisi, melawan sekelompok Tentara Sekutu, NICA dan tentara kolonial Belanda di sisi yang lain, yang terjadi antara bulan Oktober dan 25 Desember 1945, hanya 2-3 bulan setelah Soekarno-Hatta  memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Museum Palagan AmbarawaMuseum Palagan Ambarawa juga memajang beberapa foto wajah hitam-putih beberapa orang tentara yang memiliki peran penting dalam peperangan Ambarawa, dan mereka yang selamat dari pertempuran itu kemudian ditunjuk untuk menduduki beberapa posisi penting baik di dalam kesatuan militer maupun dalam institusi pemerintah.

Museum Palagan Ambarawa Museum Palagan AmbarawaMuseum Palagan Ambarawa memajang tokoh-tokoh yang berperan dalam peristiwa pertempuaran Ambawara.
Kiri: Kolonel GPH Jati Kusumo, Komandan Divisi IV, memainkan peran penting dalam pengepungan dan pengejaran tentara Sekutu, koleksi Museum Palagan Ambarawa.

Kanan: Foto Kolonel Soedirman (1916-1950),  Kepala Divisi-V, dan sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat dalam pertempuran Ambarawa, koleksi Museum Palagan Ambarawa. Ia kemudian menjadi Jenderal pertama dan termuda, serta Panglima pertama Tentara Indonesia. Ia hampir menjadi legenda dan pahlawan yang paling dihormati dalam ketentaraan Indonesia, serta dianugerahi bintang-5 sebagai Jenderal Besar pertama dalam masa pemerintahan Soeharto.

Museum Palagan Ambarawa Museum Palagan AmbarawaMuseum Palagan Ambarawa dengan foto tokoh-tokoh lainnya.

Kiri: Foto Letnan Kolonel Gatot Soebroto adalah komandan Divisi-V TKR, koleksi Museum Palagan Ambarawa. Ia aktif melakukan pengejaran tentara Sekutu dari Magelang. Banyak perintah yang ia keluarkan berkaitan dengan pengaturan strategi perang pada saat itu. Jendral Gatot Soebroto dikukuhkan sebagai pahlawan nasional setelah kematiannya yang mendadak di tahun 1962. Patungnya yang sedang mengendarai kuda terbuat dari perunggu didirikan di sebuah tempat di Purwokerto, kota kelahirannya.

Kanan: Foto Letnan Kolonel Isdiman, Komandan Resimen 16/II Purwokerto, koleksi Museum Palagan Ambarawa. Ia terbunuh dalam peperangan Ambarawa pada tanggal  26 November, 1945. Ia merupakan salah satu Komandan terbaik yang dimiliki oleh Kolonel Sudirman pada saat itu, yang membuatnya kemudian harus memimpin sendiri pertempuran itu.

Museum Palagan Ambarawa Museum Palagan Ambarawa
Sebelah kiri: Foto Kapten Surono yang berada dibawah komando kesatuan militer Letnan Kolonel Gatot Subroto selama pertempuran Ambarawa, koleksi Museum Palagan Ambarawa. Ia menggantikan Suryo Sumpeno, yang merupakan pengikut setia Soekarno, untuk menjadi Panglima Kodam Diponegoro dibawah pemerintahan Soeharto. Ia adalah salah satu tokoh penting selama masa pemerintahan Soeharto.

Sebelah kanan: Foto Kapten Sarwo Edhie Wibowo, Komandan Kompi Infanteri Batalion A. Yani, juga aktif dalam pertempuran Ambarawa, koleksi Museum Palagan Ambarawa. Ia kemudian menjadi Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) pada 1965 yang meghancurkan para pejuang dan pengikut komunis di Jawa Tengah dan kota-kota lainnya. Ia adalah ayah mertua Presiden SBY.

Palagan AmbarawaMuseum Palagan Ambarawa dengan patung dan tulisan di pintu masuk Museum Palagan Ambarawa.

Setelah mengunjungi Museum Palagan Ambarawa ini, mungkin orang akan memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang peta politik dan militer selama masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Meskipun Museum Palagan Ambarawa ini agak kecil, baik dalam ukuran maupun jumlah koleksinya, ia berada di sana untuk mengingatkan orang tentang tindakan kepahlawanan dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pendiri republik dan pejuang kemerdekaan selama periode kritis perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Museum Palagan Ambarawa

Berada di tepi Jalan utama Semarang-Yogyakarta
Kota Ambarawa.

Terkait Museum Palagan Ambarawa
Tempat Wisata di Semarang, Hotel Semarang, Peta Wisata Semarang. Foto lain Museum Palagan Ambarawa bisa dilihat di sini.



Share on FacebookTweetPrint This!