Museum Palagan Ambarawa Semarang

Museum Palagan Ambarawa adalah tempat yang saya kunjung setelah meninggalkan Candi Gedong Songo, setelah sebelumnya mencoba menikmati sarapan dengan menu makanan setempat, yaitu nasi pecel di terminal kota Ambarawa. Sayang warung tersebut tutup.

Tampaknya satuan Kostrad setempat sedang mengadakan acara pertemuan dengan memesan menu nasi pecel Ambarawa. Beruntung supir mobil sewaan bisa mendapatkan info mengenai tempat makan alternatif yang lokasinya tidak begitu jauh dari Museum Palagan Ambarawa.

museum palagan ambarawa semarang
Dengan gaya lesehan inilah menu makan pagi khas setempat yang bisa memuaskan dengan baik selera makan saya yang sederhana.

Selesai dengan urusan perut, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Palagan Ambarawa yang terletak di satu tempat di tengah kota. Kota Ambarawa berada sekitar 35 km dari Semarang menuju ke arah Selatan.

Setelah membayar tiket masuk, saya diantar oleh salah satu petugas masuk ke dalam Museum Palagan Ambarawa.

museum palagan ambarawa semarang
Sebuah patung Letkol Isdiman serta tulisan pada dinding tembok yang terlihat setelah melewati pintu masuk Museum Palagan Ambarawa.

Tulisan berisi kata-kata Presiden Soeharto yang ditoreh pada 15 Desember 1974 itu berbunyi “Kemenangan di Palagan Ambawarwa menuntut Kita Memenangkan di Palagan Pembangunan”

palagan3
Museum Palagan Ambarawa ini memiliki sejumlah koleksi senjata yang digunakan pada saat pertempuran atau Palagan Ambarawa.

Palagan Ambarawa adalah peristiwa pertempuran antara Tentara Keamanan Rakyat Indonesia (sekarang TNI) bersama sekolompok pejuang kemerdekaan Indonesia di satu sisi, melawan sekelompok Tentara Sekutu, NICA dan tentara kolonial Belanda di sisi yang lain, yang terjadi antara bulan Oktober dan 25 Desember 1945, hanya 2-3 bulan setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Museum Palagan Ambarawa juga memajang beberapa foto wajah hitam-putih beberapa orang tentara yang memiliki peran penting dalam peperangan Ambarawa, dan mereka yang selamat dari pertempuran itu kemudian ditunjuk untuk menduduki beberapa posisi penting baik di dalam kesatuan militer maupun dalam institusi pemerintah.

Diantara foto tokoh yang di pajang di Museum Palagan Ambarawa adalah Kolonel GPH Jati Kusumo, Komandan Divisi IV, memainkan peran penting dalam pengepungan dan pengejaran tentara Sekutu.

Ada juga foto Kolonel Soedirman (1916-1950), Kepala Divisi-V, dan sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat dalam pertempuran Ambarawa. Ia kemudian menjadi Jenderal pertama dan termuda, serta Panglima pertama Tentara Indonesia. Ia hampir menjadi legenda dan pahlawan yang paling dihormati dalam ketentaraan Indonesia, serta dianugerahi bintang-5 sebagai Jenderal Besar pertama dalam masa pemerintahan Soeharto.

Kemudian foto Letnan Kolonel Gatot Soebroto adalah komandan Divisi-V TKR. Ia aktif melakukan pengejaran tentara Sekutu dari Magelang. Banyak perintah yang ia keluarkan berkaitan dengan pengaturan strategi perang pada saat itu. Jendral Gatot Soebroto dikukuhkan sebagai pahlawan nasional setelah kematiannya yang mendadak di tahun 1962. Patungnya yang sedang mengendarai kuda terbuat dari perunggu didirikan di sebuah tempat di Purwokerto, kota kelahirannya.

Selanjutnya foto Letnan Kolonel Isdiman, Komandan Resimen 16/II Purwokerto. Ia terbunuh dalam peperangan Ambarawa pada tanggal 26 November, 1945. Ia merupakan salah satu Komandan terbaik yang dimiliki oleh Kolonel Sudirman pada saat itu, yang membuatnya kemudian harus memimpin sendiri pertempuran itu.

Foto Kapten Surono juga dipajang di Museum Palagan Ambawara. Ia berada dibawah komando kesatuan militer Letnan Kolonel Gatot Subroto selama pertempuran Ambarawa. Surono menggantikan Suryo Sumpeno, yang merupakan pengikut setia Soekarno, untuk menjadi Panglima Kodam Diponegoro dibawah pemerintahan Soeharto. Ia adalah salah satu tokoh penting selama masa pemerintahan Soeharto.

Selanjutnya ada foto Kapten Sarwo Edhie Wibowo, Komandan Kompi Infanteri Batalion A. Yani, juga aktif dalam pertempuran Ambarawa. Ia kemudian menjadi Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) pada 1965 yang meghancurkan para pejuang dan pengikut komunis di Jawa Tengah dan kota-kota lainnya. Ia adalah ayah mertua Presiden SBY. Dan masih ada beberapa foto tokoh-tokoh lainnya.

Setelah mengunjungi Museum Palagan Ambarawa ini, mungkin orang akan memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang peta politik dan militer selama masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Meskipun Museum Palagan Ambarawa ini agak kecil, baik dalam ukuran maupun jumlah koleksinya, ia berada di sana untuk mengingatkan orang tentang tindakan kepahlawanan dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pendiri republik dan pejuang kemerdekaan selama periode kritis perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Foto Museum Palagan Ambarawa berikutnya: 4.Granat Tank 5.Mitraliur 6.Jatikusumo 7.Sudirman 8.Gatot Soebroto 9.Isdiman 10.M. Sarbini 11.Sardjono 12.Suro Sumpeno 13.Cokropranolo 14.Surono 15.Widodo 16.Sarwo Edhie 17.Abimanyu 18.Imam Androgi

Museum Palagan Ambarawa

Berada di tepi Jalan utama Semarang-Yogyakarta
Kota Ambarawa.

Terkait Museum Palagan Ambarawa
Tempat Wisata di Semarang, Hotel Semarang, Peta Wisata Semarang. Foto lain Museum Palagan Ambarawa bisa dilihat di sini.

Share on FacebookTweetPrint!

This entry was tagged