Museum Gudang Ransum Sawahlunto

Museum Gudang Ransum di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, yang diresmikan pada 17 Desember 2005 itu menempati sebuah kompleks bangunan bekas dapur umum para pekerja tambang batubara dan pasien RSU Sawahlunto yang ketika itu berjumlah ribuan. Gedung Museum Gudang Ransum sendiri dibangun pada 1918.

Sesaat setelah memasuki kompleks museum seluas 2.300 m2 ini, ada kesan bahwa museum ini ditata dan dirawat dengan cukup baik, meskipun di sana-sini ada hal-hal kecil yang perlu mendapat perhatian.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Tampak muka Museum Gudang Ransum yang namanya ditulis pada gerbang masuk dengan menggunakan ejaan lama. Bangunan beratap seng di sebelah kiri adalah gedung utama Museum Gudang Ransum yang menyimpan koleksi museum. Sebuah cerobong beton tampak menjulang di kejauhan.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Koleksi kereta tambang yang dipajang di depan gedung Museum Gudang Ransum, disamping pintu masuk. Di latar belakang terbaca “Memahami masa silam untuk menata masa depan”.

Di sayap kanan depan terdapat ruang audio visual, berpendingin dan dengan tempat duduk yang nyaman, dimana pengunjung bisa melihat video dokumentasi sejarah pertambangan batubara di daerah Sawahlunto.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Lorong di Museum Gudang Ransum yang berada di sebelah ruang audio-visual dengan panel-panel yang berisi sejarah dapur umum, dan bangunan-bangunan penunjang dapur umum.

Pada masa revolusi kemerdekaan, 1945 – 1950, gedung Museum Gudang Ransum ini digunakan sebagai tempat memasak makanan bagi tentara (TKRI). Antara 1950-1960 digunakan sebagai kantor oleh Perusahaan Tambang Batubara Ombilin, dan lalu digunakan sebagai gedung SMP Ombilin pada 1960-1970, sebelum menjadi hunian karyawan Tambang Batubara Ombilin sampai 1980, dan juga msayarakat setempat sampai 2004.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Lesung injak yang terbuat dari kayu di Museum Gudang Ransum, dipahat hingga membentuk cekungan. Orang menumbuk gabah, rempah dan obat-obatan tradisional, hanya dengan menggunakan kaki dan berat badan untuk menggerakkan alu, sementara lesung terpasang pada sebuah kayu berukuran besar.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Koleksi Museum Gudang Ransum berupa periuk raksasa yang terbuat dari besi dan nikel, diantaranya ada yang memiliki diameter 132 cm dan tinggi 62 cm. Dipajang juga koleksi kuali, rangsang, dan beragam peralatan dapur umum berukuran besar. Foto-foto pekerja paksa yang kakinya dirantai, yang disebut Orang Rantai, pakaian mandor, pakaian pekerja dan koki, juga dipajang di ruangan ini.

Perlengkapan tambang batubara, baik yang modern ketika itu dan yang tradisional, serta contoh batubara, juga diperlihatkan di Museum Gudang Ransum ini.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Wajan yang terbuat dari besi di Museum Gudang Ransum; berbentuk lengkung, berukuran 165 cm sampai 190 cm, yang digunakan sebagai penggorengan. Wajan ini tidak memiliki telinga pegangan seperti yang biasanya ditemui pada kuali lain. Ada juga sendok penggorengan dengan panjang 91,5 cm.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Menu makanan para pekerja tambang, Orang Rantai, Orang Kawalan, dan pasien rumah sakit, yang terdiri dari nasi (65 pikul beras setiap harinya), daging, ikan asin, telur asin, sawi putih dan hijau, serta kol.

Makanan ini diberikan pada siang dan malam, sedangkan sarapannya adalah lapek-lapek yang dibuat dari beras ketan merah dibubuhi kelapa dan gula merah, dibungkus daun pisang, yang diberikan setiap jam 10 pagi. Minumannya adalah teh. Menu yang cukup baik sepertinya, karena penguasa kolonial berkepentingan agar para pekerja bisa produktif dan menghasilkan keuntungan jauh lebih besar untuk mereka.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Ruangan Galeri Foto Museum Gudang Ransum, yang memajang foto-foto kuno, diantaranya foto WH de Greeve, geolog Belanda penemu batubara di Sawahlunto pada 1868. Ia menyimpulkan bahwa terdapat lebih dari 200 juta ton kandungan ‘Mutiara Hitam’ di kawasan ini.

Belanda pun menanamkan modal 5,5 juta golden untuk membangun pemukiman dan fasilitas perusahaan tambang Ombilin, seperti jalur kereta api Sawahlunto – Emma Haven (Teluk Bayur), serta peralatan pertambangan modern dan tradisional.

Di ruang galeri Museum Gudang Ransum ini juga dipajang foto-foto tokoh-tokoh Sawahlunto, peta tambang batubara Ombilin, dan foto pekerja yang tengah melakukan aktivitas penambangan, seperti peledakan dinamit, dll.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Sebuah bangunan penunjang dapur umum, berupa gedung mesin uap (power stoom), yang berada di belakang gedung utama Museum Gudang Ransum. Di dalam kompleks Museum Gudang Ransum juga terdapat gudang persediaan bahan mentah, tungku pembakaran, pabrik es batangan, penggilingan padi, dan rumah pemotongan hewan yang letaknya agak terpisah. Di belakang power stoom ini ada musholla.

Museum Gudang Ransum Sawahlunto
Menara beton yang berada di belakang bangunan mesin uap di kompleks Museum Gudang Ransum.

Batu-batu nisan para pekerja tambang yang hanya diberi nomor, tanpa nama, diletakkan di bagian belakang bangunan Museum Gudang Ransum, menunggu penempatan yang lebih layak.

Bangunan di kompleks Museum Gudang Ransum yang tidak saya kunjungi adalah Pabrik Es, gedung Konservasi, Galeri Etnografi, dan IPTEK Center, yang semuanya berada di sisi sebelah kanan.

Museum Gudang Ransum

Jl Abdul Rahman Hakim, Kel Air DIngin, Kec Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat
Telp 0754-61985
Fax 0754 61985
Email: goedang.ransum@gmail.com
GPS -0.67868, 100.78090

Tiket masuk:
Rp. 4.000 dewasa, Rp. 2.000 anak.

Jam Buka:
Selasa s/d Minggu 08.00 – 17.00

Terkait Sawahlunto
Wisata Sawahlunto | Peta Wisata Sawahlunto



Share on Facebook ~ Tweet ~ Print This! ~ Share via Email