Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat saya kunjungi beberapa bulan lalu melalui pintu samping di Jl Dipati Ukur, Bandung, di seberang kampus Unpad. Area parkirnya cukup luas, dan saya melewati sebuah pos satpam ketika memasuki kompleks monumen ini. Ada terlihat cukup banyak mobil dan motor parkir di dalam kompleks monumen, sekitar 50 m dari pos satpam, yang rupanya hanya diperuntukkan bagi para pegawai Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional Jabar yang berkantor di lantai bawah monumen.

Dengan berjalan melingkari seperempat area monumen dan mendaki beberapa anak tangga, saya pun sampai di area pusat Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, yang populer dengan sebutan Monju (dari kata monumen perjuangan).

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Lambang negara Garuda Pancasila di titik pusat monumen yang berbentuk lengkung berlapis, diapit oleh bangunan simetris yang mengambil bentuk bambu runcing, senjata tradisional yang banyak digunakan semasa revolusi kemerdekaan.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Salah satu bagian relief yang berada di sayap kiri kanan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Relief itu diantaranya memperlihatkan Sakola Istri, sekolah perempuan pertama se-Hindia Belanda yang didirikan pada 16 Januari 1904 oleh Dewi Sartika. Sakola Istri dimulai dengan tiga orang guru (Dewi Sartika, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid) serta 20 orang murid, dengan menggunakan ruangan pendopo Kabupaten Bandung.

Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan kaum perempuan, lahir di Bandung 4 Desember 1884 dan meninggal di Tasikmalaya 11 September 1947. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 1966.

Juga terlihat relief Sumpah Pemuda 1928, serta tulisan “Indonesia Menggoegat” yang diambil dari judul pidato pembelaan Sukarno di Gedung Pengadilan Distrik Bandung di jaman kolonial, yang sekarang menjadi Gedung Indonesia Menggugat.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Bagian relief lain yang memperlihatkan politik Devide et Impera Belanda pada Perundingan Linggarjati, yang diselenggarakan di Gedung Perundingan Linggarjati, Kuningan.

Perundingan Linggarjati yang dimulai pada 11 November 1946 itu menghasilkan 17 pasal, yang dianggap sangat melemahkan posisi Indonesia, diantaranya:
Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura.
Belanda harus meninggalkan wilayah RI selambatnya 1 Januari 1949.
Belanda dan Indonesia membentuk RIS.
Indonesia harus tergabung dalam Persemakmuran Indonesia – Belanda dengan penguasa Belanda sebagai kepala uni.

Hasil perundingan Linggarjati ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi pada 25 Maret 1947. Namun pada 20 Juli 1947, Gubernur Jenderal H.J. van Mook menyatakan tidak terikat dengan perjanjian ini, dan 21 Juli 1947 terjadi Agresi Militer I.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Prasasti berupa puisi yang ditulis Saini KM dalam bahasa Sunda, serta terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Lemah beunghar ku berkah, langit pinuh ku rahmat (bumi diberkati, langit dirakhmati)
Nya milik hidep: Warisan ti para karuhun (Adalah milikmu: Warisan dari para leluhur)
Nu ngaraksa ku gawe, nu rumawat ku du’a (Yang mengolahnya dengan kerja dan do’a)
Nagri nu dihariringkeun angin dina daun awi (Negeri yang dinyanyikan angin di daun bambu)
Tempat imut bareukah tur sewu kagumbiraan (Tempat senyum merekah alami dan gelak tawa)
Ear kawas cai walungan dina sela-sela batu (bagai derai air jernih diantara batu-batu)
Nya pusaka anjeun: Watesna tegal Si Awat-awat (Adalah pusaka: Dibatasi padang Si Awat-awat)
Dijaga ku Gunung Salak. Ditungguan Tangkuban Parahu (Dijaga Gunung Salak, dilindungi Tangkuban Prahu)

Nonoman, kiwari nya giliran aranjeun (Orang muda, kini giliranmu telah tiba)
Nu Kasinugrahan wawangi Sajarah (Untuk menrima anugrah Sejarah)
Bral tandang bari paheuyeuk-heuyeuk leungeun; (Rapatkan barisan, langkah ke depan)
Kalawan rido Matenna di unggal lengkah (Dengan karunia-Nya sepanjang jalur jejakmu)
Impian demi impaian bakal ngajirim (Impian demi impair terwujud)
Beberkeun bandera pikeun sagala topan (Julang panji, kibarkan bagi segala taufan)
Sabab nya taktak aranjeun pisan
Nu bakal nyangga gelaring pajar (Karena di bahumu akan diletakkan fajar)
Pikeun langit anyar, pikeun jaman nu akbar (Bagi cakrawala baru, bagi zaman yang besar)
Saini KM

Saini KM, lahir di Sumedang pada 16 Juni 1938, adalah penulis esai, puisi dan naskah teater yang mendapat berbagai penghargaan. Ia adalah pendiri dan pengajar Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Salah satu diorama yang memperlihatkan ketika Bung Karno berpidato pada Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika, diselenggaralan pada 18 – 24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, yang dihadiri 29 negara.

Diorama ini berada di ruangan di bawah monumen yang berbentuk melingkar, yang saya kunjungi dengan diantar oleh seorang petugas. Petugas itu mengatakan bahwa area yang seharusnya digunakan sebagai Museum Perjuangan Rakyat Jawa Barat masih belum selesai.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Diorama yang memperlihatkan peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada 24 Maret 1946.

Dalam peristiwa tujuh jam itu sekitar 200.000 penduduk Bandung Selatan membakar rumah dan bangunan-bangunan penting di sekitar rel kereta api, dari mulai Ujung Berung sampai ke daerah Cimahi. Aksi bumi hangus ini dilakukan agar tentara Sekutu dan NICA tidak bisa menggunakan Kota Bandung sebagai markas militer dalam perang melawan Republik Indonesia. Ada pula diorama yang memperlihatkan suasana saat berlangsungnya Perundingan Linggarjati.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Partisipasi rakyat dalam pembangunan jalan raya di wilayah Sumedang semasa pemerintahan Daendels.

Di area yang sekarang dikenal sebagai Cadas Pangeran, proyek pembangunan Jalan Raya Pos sempat terhenti karena kondisi alam yang sulit telah memakan banyak korban jiwa, sehingga para pekerja menolak melanjutkan bekerja dan Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX, Bupati Sumedang 1791 – 1828) turun langsung dan bertemu Daendels untuk membela para pekerja. Daendels akhirnya memerintahkan Brigadir Jenderal von Lutzow menggunakan tembakan artileri untuk menghancurkan bukit cadas dan pembangunan pun bisa diteruskan.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Diorama yang menggambarkan perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa bersama rakyatnya untuk menentang kolonial Belanda pada tahun 1658.

Sultan Ageng Tirtayasa adalah penguasa Kesultanan Banten pada 1651 – 1683, dan memimpin banyak perlawanan terhadap VOC yang mencoba menerapkan monopoli perdagangan yang sangat merugikan.

Diorama lainnya di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat ini adalah Long Mach Siliwangi pada Januari 1949 dan Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962.

monumen perjuangan rakyat jawa baratMonumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dilihat dari arah samping belakang.

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dibangun di atas tanah seluas 72.040 m², dengan luas bangunan 2.143 m², menghadap lurus ke arah Gedung Sate, diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat R. Nuriana pada 23 Agustus 1995. Monju juga dilengkapi dengan ruang audiovisual yang saat itu belum berfungsi, serta ruang perpustakaan dan musholla.

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Jl. Dipati Ukur No. 48 Bandung (lihat Peta)

Terkait Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat
Tempat Wisata di Bandung, Peta Wisata Bandung, Hotel Murah di Bandung, Hotel di Bandung, Hotel di Ciwidey



Share on FacebookTweetPrint This!