Makam Syekh Maulana Maghribi Cirebon, 1

Share . Tweet . Whatsapp . Google+1 . Print!

Penanda Makam Syekh Maulana Maghribi Cirebon di tepian jalan tertangkap mata ketika sedang melaju di atas becak menuju Keraton Kacirebonan. Namun Makam Syekh Maulana Maghribi ini saya kunjungi dalam perjalanan setelah mengunjungi Keraton Kacirebonan.

Selain karena senang berkunjung ke makam tua, nama Syekh Maulana Maghribi juga memiliki daya tarik. Nama itu akrab ditelinga, sebagian karena namanya sama dengan nama shalat yang dilakukan setelah matahari terbenam. Maghrib sering menggantikan waktu setelah senja.

Sebutan Syekh Maghribi ini kemungkinan merupakan asal muasal nenek moyangnya, yaitu daerah Maghrib, atau Maroko di Benua Afrika bagian Utara. Nama aslinya adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang juga dikenal sebagai Sunan Gresik, wali paling senior diantara wali songo, dan merupakan penyebar Islam yang pertama di tanah Jawa.

makam syekh maulana maghribi1/7. Gapura Paduraksa Luar
Dari gapura paduraksa yang ada di pinggir Jl Pasunean Cirebon menuju ke arah Makam Syekh Maulana Maghribi ini becak yang saya tumpangi terus melaju masuk ke dalam kira-kira sejauh 150 meter. Setelah itu becak berbelok ke kiri dan melaju kira-kira sejauh 50 meter hingga melihat Makam Syekh Maulana Maghribi yang ada persis di sebelah kanan.

Saat itu ada beberapa pria yang tengah berkerumun sambil berbincang di pinggri jalan sekitar makam. Mereka adalah penduduk desa setempat. Hanya saja ketika saya bertanya tentang kuncen makam, tak seorang pun dari mereka yang bisa memberi tahu letak rumahnya. Tak juga ada yang bisa membantu untuk menghubungi atau memanggilnya.

makam syekh maulana maghribi2/7. Tengara Makam
Papan penanda Benda Cagar Budaya yang berada di depan makam, dengan tulisan berangka tahun 1465. Uniknya, selain di Kota Cirebon, makamnya ditemukan juga di beberapa tempat lain, seperti di Tuban dan di daerah Parangtritis Bantul yang juga ada Makam Syekh Maulana Maghribi.

Di daerah Lokawisata Baturraden juga terdapat petilasan Mbah Atas Angin yang konon nama lain syekh yang masyhur ini. Di Batang, Jawa Tengah, ada pula Makam Syekh Maulana Maghribi. Lalu ada pulua makamnya di Kawedanan Comal, Pemalang. Demikian terkenalnya beliau sehingga diklaim dimakamkan di banyak tempat. Namun ada pula yang berbendapat bahwa mereka adalah orang yang berbeda.

makam syekh maulana maghribi3/7. Jirat Kubur
Pusara sederhana ini yang dipercaya sebagai Makam Syekh Maulana Maghribi di Cirebon. Di sebelah kanannya terdapat makam berukuran mini yang unik. Makam sang wali berada dalam kompleks makam kecil, diantara makam ada yang memiliki 5 undakan, yang mungkin menggambarkan rukun Islam yang lima.

Sayangnya pintu masuk lapis pertama makam terkunci, dan juru kuncinya tidak juga datang ke lokasi sampai saya meninggalkan makam ini. Pada dinding tembok makam yang bercat merah terlihat menempel sejumlah keramik. Sebuah ciri yang mewarnai banyak bangunan lama di Kota Cirebon.

makam syekh maulana maghribi4/7. Pintu Kedua
Pintu masuk lapis kedua ke dalam makam yang rendah, yang nampaknya bermaksud sebagai pengingat agar ketika berkunjung ke makam ini maka peziarah harus berendah hati. Sama seperti ketika saya hendak memasuki ruang utama di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang harus membungkuk dalam-dalam agar bisa lewat.

Ketika datang pertama kali ke Jawa ia tiba di Desa Sembalo, kini daerah Leran, Gresik, dan mulai menyiarkan agama Islam dengan mendirikan masjid yang kini bernama Masjid Malik Ibrahim Pesucinan Leran. Karena perilakunya yang ramah maka banyak yang akhirnya tertarik masuk Islam. Melalui kegiatan dagangnya beliau juga bisa berhubungan dengan masyarakat, bangsawan, dan penguasa, yang turut membantu mempermudah kegiatan dakwahnya.

Dengan banyaknya tempat yang diakui sebagai Makam Syekh Maulana Maghribi, tentunya hanya ada satu yang benar, dan sisanya tampaknya petilasan, atau tempat dimana sang syekh pernah singgah, atau makam orang lain dengan julukan sama. Sepertinya makam yang sebenarnya adalah yang di Makam Maulana Malik Ibrahim Gresik, yang saya kunjungi beberapa bulan kemudian.

Bagaimana pun makam hanyalah sekadar penanda yang diperuntukkan bagi orang yang masih hidup, sebagai tempat jasad si mati yang kemudian menjadi debu untuk disemayamkan. Sehingga tidak mengapalah jika ada begitu banyak makam untuk seorang syekh yang jasanya begitu besar dalam pengembangan Islam di tanah Jawa ini.


Author: Bambang Aroengbinang
Kategori: Cirebon Kota. Tag: . . Pos lalu: . Pos baru:

Share . Tweet . Whatsapp . Google+1 . Print!