Makam Sultan Hasanuddin Gowa, 1

Share . Tweet . Whatsapp . Google+1 . Print!

Saya berkesempatan berkunjung ke Makam Sultan Hasanuddin Gowa di puncak bukit terbuka Tamalate yang ada dari Kelurahan Katangka, Somba Opu, Kabupaten Gowa. Kompleks makam yang cukup luas itu berjarak hanya sekitar 10 menit dari kompleks Makam Arung Palakka.

Makam Sultan Hasanuddin, Pahlawan Nasional karena peranannya dalam berperang melawan tentara Belanda, berada di tempat terbuka tanpa cungkup dalam deretan makam Raja-Raja Gowa lainnya. Saat itu menjelang tengah hari dan tak terlihat ada orang yang berjaga di makam.

Kompleks makam Raja-Raja Gowa ini ada dua bagian yang dipisahkan oleh sebuah pendopo. Hanya beberapa pohon berukuran sedang yang ada di sekitar makam, dan tidak cukup rindang untuk memberi perlindungan bagi pengunjung terhadap sengat matahari Sulawesi Selatan yang tidak memiliki belas kasihan.

makam sultan hasanuddin gowaJalan Masuk
Pemandangan pada jalan masuk menuju ke dalam kompleks Makam Sultan Hasanuddin Gowa, dengan tengara makam di bagian depan luar, dan bangunan pendopo cukup besar terlihat di latar belakang foto. Di dalam pendopo itu ada sebuah patung Sultan Hasanuddin, serta lukisan potretnya yang digantungkan pada dinding ruangan yang cukup tinggi.

Di pinggir kiri luar kompleks makam terdapat batu Tomanurung atau Batu Pallantikan, tempat Raja-Raja Gowa mengambil sumpah. Sultan Hasanuddin dinobatkan ketika berusia 22 tahun, menggantikan ayahnya yang bernama Sultan Malikussaid. Ibundanya, I Sabbe Lokmo Daeng Takontu, berasal dari keluarga kerajaan di Laikang.

makam sultan hasanuddin gowaPatung Sultan Hasanuddin
Patung Sultan Hasanuddin, dengan makam Raja-Raja Gowa terlihat di belakangnya. Patung itu diletakkan di bangunan utama yang di tengah kompleks makam. Sultan Hasanuddin, yang juga dikenal sebagai Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape, adalah Raja Gowa XVI, dan merupakan raja yang paling dikenal luas di luar wilayah Sulawesi Selatan.

Sultan Hasanuddin lahir pada 1629, turun tahta pada 1668 dan wafat 1670. Ia mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 16 November 1973. Makam Sultan Alauddin, Raja Gowa XIV, dengan lorong persegi di dasarnya, ada di dalam kompleks makam ini. Sultan Alauddin adalah Raja Gowa yang berperan besar dalam penyebaran ajaran Islam di Kerajaan Gowa.

makam sultan hasanuddin gowaBendera Merah Putih
Bendera Merah Putih berkibar di kompleks Makam Sultan Hasanuddin Gowa yang hampir semua kijingnya dibuat dari batu yang unik dan megah. Pada 1654, ia mengirim armada tempur berkekuatan 100 kapal untuk membantu rakyat Maluku melawan armada Belanda di bawah komando De Vlamingh Van Oudshoorn. Pertempuran besar ini dikenal sebagai Perang Hongi.

Pada tahun 1655, kembali kedudukan Belanda di Buton diserang oleh pasukan sang Sultan yang akhirnya berhasil membebaskan Buton dan Tobea dari tangan Belanda. Pada tahun 1660, armada Gowa kembali berperang melawan 22 kapal perang Belanda yang berkekuatan 1.764 orang di bawah komando John Van Dam yang datang dari Batavia.

makam sultan hasanuddin gowaAyam Jantan
Makam Sultan Hasanuddin Gowa ini berada di sekitar bagian tengah kompleks makam, dengan sebuah patung ayam jantan bertengger di atas makamnya. Sultan Hasanuddin memang dikenal sebagai raja dengan julukan Ayam Jantan dari Timur, untuk menghormati keberanian dan kegigihannya dalam melawan hegemoni Belanda.

Pada Juli 1667, Gowa diserang dengan hebat oleh armada laut Belanda di bawah pimpinan Speelman, yang mendapat dukungan raja-raja Ternate, Tidore, Bacan, Buton dan Bone dalam perang darat yang dahsyat. Ketika terdesak hebat, Perjanjian Bungaya pun terpaksa ditandatangani pada 18 November 1667, untuk mencegah korban yang lebih besar.

Perjanjian Bungaya mengakhiri dominasi kekuasaan Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Demikianlah, kita mesti belajar dari sejarah, bahwa konflik diantara pusat kekuasaan hanya akan menguntungkan kekuatan asing yang akan menjadi penguasa sesungguhnya. Mereka yang tidak belajar dari kesalahan masa lalu akan cenderung mengulanginya, sering dengan cara yang lebih buruk.


Author: Bambang Aroengbinang
Kategori: Gowa. Tag: . . Pos lalu: . Pos baru:

Share . Tweet . Whatsapp . Google+1 . Print!