Makam Arung Palakka Gowa

Kunjungan ke Makam Arung Palakka boleh dikatakan terjadi secara kebetulan. Adalah ketika tengah duduk di sebuah mobil yang melaju di sepanjang jalan utama Sungguminasa-Makassar, secara tidak sengaja kepala saya menengok ke kanan, dan dalam hitungan detik mata saya menangkap sebuah tulisan yang menunjukkan jalan masuk ke Makam Arung Palakka.

Setelah sempat ragu, saya pun mengambil keputusan dan meminta pengemudi untuk berputar balik, dan masuk ke jalan kecil, mengikuti petunjuk yang saya lihat tadi.

Saya merasa pernah mengenal nama Arung Palakka (ada yang menyebutnya sebagai Aru Palakka), namun lupa, sampai saya membaca tulisan tangan pada sebuah buku tulis di dalam makam yang menjelaskan secara singkat sosok Arung Palakka.

Makam Arung Palakka berada di Kelurahan yang sama dengan Makam Sultan Hasanudddin, yaitu di Katanga, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Letak Makam Arung Palakka berada sekitar 200 meter dari tepi jalan raya, melewati sebuah jalan mendaki ke atas yang agak sempit yang langsung menuju ke arah makam.

makam arung palakka
Makam Arung Palakka pada gerbang masuk yang terkunci ketika kami tiba. Memenuhi permintaan kami, seorang pria paruh baya melompati pagar makam untuk memberitahu penjaga Makam Arung Palakka tentang kedatangan kami.

Beberapa menit kemudian, seorang wanita muncul dan tanpa bertanya ia pun segera mengurai gembok, membuka pintu pagar, dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam kompleks Makam Arung Palakka yang cukup luas itu.

Arung Palakka lahir pada hari Jumat, 15 September 1635, di sebuah desa yang bernama Lamotto, Mario-ri Wawo, Soppeng, dan meninggal di Bontoala, 6 April 1696. Ayahnya bernama Lapattobune Aru Tana Tengga dan ibunya bernama We Tennisui, yang adalah puteri Raja Bone XII.

Arung Palakka pernah hidup dan menjadi seorang jagoan yang ditakuti dan malang melintang di Batavia sejak tahun 1660-an, saat ia bersama pengikutnya melarikan diri dari kekuasaan Sultan Hasanuddin di Makassar. Oleh VOC ia diberi daerah di pinggiran Kali Angke, hingga ia disebut To Angke atau orang Angke.

Arung Palakka kemudian membangun persekutuan rahasia dengan Cornelis Janszoon Speelman dan seorang pria yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon, bernama Kapiten Jonker. Mereka memegang kendali atas VOC, termasuk monopoli perdagangan emas dan hasil bumi.

makam arung palakka
Cungkup Makam Arung Palakka ada di baris paling depan di kompleks makam ini, mungkin menandai posisinya yang penting diantara kubur lainnya. Bentuk cungkup kubur unik seperti itu sepertinya belum pernah saya lihat sebelumnya. Makam Arung Palakka berada dalam satu kompleks dengan tempat dimana disemayamkan tubuh dari mertua Sultan Hasanuddin.

Arung Palakka adalah orang yang memimpin penaklukan Sumatra dan menghancurkan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Kisahnya berawal pada tahun 1662, ketika dibuat Perjanjian Painan antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang yang bertujuan memonopoli perdagangan di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido.

Namun rakyat Minangkabau marah dan mengamuk pada tahun 1666, menewaskan Jacob Gruys, perwakilan VOC di Padang. Arung Palakka pun dikirim VOC ke Minangkabau, dan bersama pasukannya ia berhasil mematahkan perlawanan rakyat Minangkabau dan menaklukkan seluruh pantai barat Sumatera, serta memutus hubungan antara Minangkabau dengan Aceh.

makam arung palakka
Makam Arung Palakka yang di dalam cungkup kubah. Harum bunga dan setanggi tercium kuat di dalam ruangan yang licin dan mengkilap ini. Ada dua kubur di dalam cungkup itu, dan Makam Arung Palakka terletak di sebelah kanan

Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu milik Kerajaan Gowa dan lalu menguasai perdagangan di Indonesia timur, khususnya jalur rempah- rempah Maluku. Speelman akhirnya berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681. Sedangkan Kapiten Jonker adalah orang yang berhasil menangkap Trunojoyo dan mematahkan perlawanan para pengikutnya.

Namun kejayaan selamanya selalu dekat dengan kehancuran. Seorang perwira asal Perancis bernama Isaac declornay de Saint Martin, berhasil mengungkap korupsi yang dilakukan Speelman sehingga ia dicopot dari jabatannya sebagai Gubernur Jenderal.

Isaac pun mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk segera menyingkirkan Kapiten Jonker. Daerah kekuasaan Kapiten Jonker di Pejonkeran Marunda pun dikepung dan diserbu. Kapiten Jonker terbunuh, kepalanya dipancung dan dipamerkan kepada khalayak ramai. Para pengikutnya juga dibunuh, dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika.

Kompleks Makam Arung Palakka ini terasa agak panas, karena terlihat hanya ada beberapa pohon berukuran relatif kecil yang tidak mampu melindungi pengunjung dari sengat matahari yang terik dan kering.

Makam Arung Palakka menjadi pengingat bahwa baik Arung Palakka maupun Sultan Hasanuddin telah melakukan apa yang mereka pikir terbaik bagi rakyat dan wilayahnya masing-masing. Sayang sekali bahwa waktu telah membuat mereka berada di seberang jalan yang berbeda. Namun waktu juga bisa memberi ruang yang cukup bagi keturunan mereka untuk belajar dari konflik yang pernah terjadi, untuk mengubur luka lama, untuk lebih bijak, dan untuk bersatu membangun kehidupan masa depan yang lebih baik.

Foto Makam Arung Palakka lainnya: 4.Kedua Makam 5.Sisi Kanan Makam 6.Sisi Kiri Makam Kedua 7.Kubur Batu 8.Kubah Kubur 9.Kubur Batu Susun 10.Cungkup Kubur 11.Ornamen Kubur Batu

Makam Arung Palakka

Kelurahan Katanga, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa
Sulawesi Selatan.
GPS: -5.1933783, 119.4455869

Letak Makam Arung Palakka sekitar 200 meter dari tepi jalan raya, melewati sebuah jalan mendaki ke atas yang langsung menuju ke kompleks makam.

Tidak ada tiket masuk, namun sumbangan sukarela diharapkan.
Informasi tentang Arung Palakka bisa dibaca lebih lanjut di Wikipedia

Terkait Gowa
Makam Sultan Hasanudding | Museum Balla Lompoa

Share on FacebookTweetPrint!

This entry was tagged