Kelenteng Boen Hay Bio Tangerang

Kelenteng Boen Hay Bio adalah satu dari tiga kelenteng tua di wilayah Tangerang yang saya kunjungi paling akhir. Berbekal informasi koordinat GPS yang saya peroleh melalui mesin pencari Google, dan kemudian diperiksa ulang di Google Map dengan melihat citra satelit, saya pun meluncur ke Kelenteng Boen Hay Bio beberapa minggu lalu, mengandalkan perangkat navigasi GPS.

Perangkat navigasi menuntun saya masuk tol JORR , berlanjut ke tol Jakarta – Serpong, dan keluar di pintu tol Serpong terakhir. Hanya beberapa puluh meter setelah keluar tol, perangkat navigasi meminta belok ke kiri, di GPS -6.308084,106.672960, masuk ke jalan kecil sejauh 1,3 km sampai bertemu Jl. Raya Serpong di ujung jalan, dan lalu belok ke kiri.

Menyusur Jl. Raya Serpong, saya melihat sebuah gapura di sebelah kiri jalan. Gapura itu ada di kaki sebuah bukit yang berbunyi Kramat Tajug, Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, pada GPS -6.30952, 106.66251. Sayang saya tidak sempat mampir ke makam karuhun ini, lantaran hujan masih turun.

Tidak lama kemudian saya bertemu pertigaan dengan tugu di tengahnya, dan perangkat navigasi meminta saya berbelok ke kanan, yang mestinya saya harus putar balik. Sempat tersesat melewati jembatan di atas Sungai Cisadane yang cukup lebar dengan jalanan yang jelek, saya pun berbalik arah, dan di pertigaan itu saya berbelok ke kiri.

Jalan masuk ke Kelenteng Boen Hay Bio hanya beberapa meter dari tugu di pertigaan itu, yaitu pada GPS: -6.311689,106.660582. Mestinya saya bisa memotong jalan, tidak perlu sampai di tugu pertigaan itu.

kelenteng boen hay bio tangerang
Bagian depan Kelenteng Boen Hay Bio, dengan tulisan pada gerbang berbunyi “Vihara Karunayala, Boen Hay Bio Serpong”. Halaman Kelenteng Boen Hay Bio ini cukup luas, dengan warung penduduk terletak di sebelah kanan depan bangunan, di bawah pohon beringin.

Menempel di atas wuwungan gerbang Kelenteng Boen Hay Bio adalah sebuah kepiting raksasa. Ornamen yang baru pertama kali saya lihat di kelenteng ini. Rupanya kepiting dalam budaya Tionghoa dipercaya dapat melindungi kuil dan mampu mmengusir roh-roh jahat yang bergentayangan.

Di bagian depan Kelenteng Boen Hay Bio terdapat deretan lampion lambang keberuntungan, serta dua buah Kim Lo, menara pembakar kertas sembahyang bersusun lima di bagian kiri dan kanan depan bangunan. Sebuah hiolo untuk sembahyang Dewa Langit diletakkan diantara kedua menara.

Saat masuk ke ruang utama Kelenteng Boen Hay Bio, ada lilin dan pelita minyak yang selalu menyala, karena merupakan lambang kehidupan yang tak boleh mati. Arca naga berukuran besar dengan detail yang elok melilit di pilar kelenteng.

Tempat menancapkan batang lilin dibuat berupa deret pipa pendek dalam tiga baris dengan lebih dari sepuluh kolom. Lelehan sisa-sisa pembakaran lilin yang semuanya berwarna merah pada pipa itu membentuk tekstur tidak beraturan yang unik.

kelenteng boen hay bio tangerang
Altar Dewa Thay Sui di Kelenteng Boen Hay Bio. Thay Sui adalah dewa yang menguasai perputaran waktu. Pemujaan Thay Sui konon dimulai masa Dinasti Yuan (1280-1368). Sembahyang kepada Dewa Thay Sui biasanya dilakukan ketika suatu pekerjaan besar dan penting akan dikerjakan.

Tuan rumah Kelenteng Boen Hay Bio adalah Kongco Kwan Kong (Kwan Seng Tee Kun) atau Satyadharma Bodhisattva. Kwan Kong dipuja karena keteladanannya sebagai kesatria sejati yang selalu menepati janji, setia pada sumpah, dan jujur. Ia juga dipuja sebagai Dewa Pelindung Perdagangan, pelindung kesusastraan, dan pelindung rakyat dari malapetaka akibat peperangan.

Sebuah tambur berukuran cukup besar juga saya lihat di Kelenteng Boen Hay Bio. Namun belum pernah saya temukan tambur yang dihiasi ornamen indah di semua kelenteng yang pernah saya kunjungi. Genta juga ada di kelenteng ini.

Di salah satu bagian ruangan ada altar Dewa Kwe Sen Ong. Sayang saya tidak berhasil menemukan informasi mengenai asal usul dewa ini, dan mengapa ia dipuja. Sedangkan altar pemujaan bagi penganut Buddha, dengan patung Buddha berukuran besar dan berwarna keemasan, berada di sebuah ruangan di lantai dua Kelenteng.

kelenteng boen hay bio tangerang
Patung Kwan Kong yang berukuran besar, patung-patung Buddha dan patung para dewa lainnya yang berukuran kecil dan sedang, diletakkan di sebuah meja panjang yang berada di lantai dua Kelenteng yang berbentuk huruf U.

Kelenteng Boen Hay Bio juga memiliki grup seni Barongsay, yang biasanya muncul ketika ada perayaan di kelenteng Boen Tek Bio dan kelenteng besar lainnya, atau ketika berlangsung upacara peringatan ulang tahun Kelenteng Boen Hay Bio sendiri. Peralatannya terlihat diletakkan di pinggir ruangan, merapat pada tembok.

Di ruang utama Kelenteng, selain kedua naga besar yang melilit pilar, juga terdapat meja dengan ukiran naga dan burung hong indah dalam posisi berhadapan. Di atas meja tergeletak peralatan bebunyian berusia tua yang digunakan sebagai perlengkapan upacara sembahyang di Kelenteng.

Saat saya menunggu hujan reda di teras kelenteng, seorang petugas Kelenteng Boen Hay Bio duduk di atas sebuah kursi dan memainkan kencreng terbuat dari kuningan dengan irama ritmis. Tambur besar yang berada di depan pria itu kabarnya telah berusia cukup tua. Perayaan ulang tahun kelenteng dilakukan setiap tanggal 24 bulan enam (Lak Gwee) dalam Kalender Tionghoa.

Kelenteng Boen Hay Bio yang dibangun pada 1694 ini melambangkan samudera tanpa batas, sedangkan Kelenteng Boen Tek Bio di Pasar Lama Kota Tangerang yang dibangun pada 1684 melambangkan kebajikan setinggi gunung sedalam lautan, dan Kelenteng Boen San Bio di kawasan Pasar Baru Tangerang yang berdiri tahun 1689 melambangkan gunung.

Foto Kelenteng Boen Hay Bio selengkapnya: 4.Ruang Utama 5.Mantra 6.Tempat Lilin 7.Mandi Cahaya 8.Pelita 9.Naga 10.Bedug 11.Tambur 12.Kwan Im 13.Kwe Sen Ong 14.Thay Sang Lauw Chin 15.Buddha 16.Stupa 17.Balkon 18.Barongsay 19.Burung Hong 20.Altar Tuan Rumah 21.Samping 22.Kim Lo 23.Cioksay 24.Peralatan 25.Kencreng 26.Halaman Dalam 27.Samudra Tanpa Batas

Kelenteng Boen Hay Bio

Jalan Pasar Lama Serpong, Desa Cilenggang, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan (lihat Peta)

Wisata Terdekat Kelenteng Boen Hay Bio

Monumen Palagan Lengkong (4,7 km) | Jembatan Pelengkung (14,2 km) | Kelenteng Boen Tek Bio (17,2 km) | Situ Gede (17,4 km)

Terkait Kelenteng Boen Hay Bio
Hotel di Tangerang | Peta Wisata Tangerang | Tempat Wisata di Tangerang

Bagi di FacebookTweetPrint!