Kawah Putih Ciwidey Bandung

Kawah Putih Ciwidey, Bandung Selatan, merupakan nama yang menyimpan sejumlah pertanyaan, sebagian karena kabutnya mistis dan kandungan belerangnya tinggi, sebagian karena sempat ada ketidakpastian mengenai akses menuju Kawah Putih yang pernah diberitakan tertutup karena longsor.

Kabar buruk tersimpan lama, berita baik bukanlah berita, sehingga meskipun akses ke Kawah Putih sudah cukup lama dibuka kembali, namun masih saja tersimpan ketidakpastian di kepala. Akhirnya beberapa minggu lalu, bersama dua orang teman kami meluncur dari Jakarta melalui tol Jakarta – Cikampek, lanjut tol Purbaleunyi, keluar di pintu tol Kopo menuju arah Kawah Putih.

Setelah keluar pintu tol Kopo, kami melewati Jl. Terusan Kopo – Soreang, lalu belok kanan ke Jl. Raya Soreang, lanjut Jl. Raya Soreang – Ciwidey terus mengikuti jalan mulus berkelok naik. Bekas longsoran terlihat di kiri jalan, namun akses sampai pintu gerbang Kawah Putih Ciwidey terbilang mulus.

Di sebuah pertigaan, ada tanda Situ Patengan ke kiri, namun GPS meminta lurus. Kami lurus dan berbelok kiri pada sebuah pertigaan lagi. Akibatnya kami melewati jalan sempit, tidak mulus, namun pemandangannya indah dengan hamparan kebun strawberry, sawah, dan perbukitan hijau di latar belakang.

kawah putih ciwidey bandung
Deretan pepohonan menuju gerbang wisata Kawah Putih yang terlihat asri indah ini. Kawah Putih Ciwidey masih sekitar 5 km lagi dari sini. Sebelumnya tengara Kawah Putih Ciwidey ada di tepi kiri jalan yang menjadi penanda bagi pejalan yang ingin berkunjung.

Di pintu gerbang Kawah Putih Ciwidey, kami membayar tiket. Tiket untuk mobil mahal, Rp.150.000, sedangkan per orang Rp.15.000. Jika ingin hemat, pengunjung bisa parkir di parkir bawah Kawah Putih, dan naik angkutan umum Rp.10.000 ke Kawah Putih Ciwidey.

Setelah melewati jalan berkelok, kami sampai di parkir atas Kawah Putih yang luas. Tidak lama setelah turun, kepala terasa pening, mungkin karena pasokan oksigen kurang, juga karena udara Kawah Putih mengandung kadar belerang tinggi. Namun setelah beberapa saat masker bisa dilepas di tepian Kawah Putih tanpa pusing lagi.

Selagi menyesuaikan diri dengan keadaan, sebelum turun ke bawah, kami melihat Kawah Putih dari sela-sela pohon di area sekitar parkir kendaraan.

kawah putih ciwidey bandung
Di ujung jalan menurun yang tertata dengan baik ini terlihat Kawah Putih Ciwidey. Sebelumnya ada jalan ke sebelah kiri mungkin adalah jalan menuju Kawah Saat yang lebih rendah dari Kawah Putih.

Kawah Putih Ciwidey sesungguhnya adalah danau kawah terbentuk akibat letusan Gunung Patuha yang terjadi pada abad ke-XII. Sebelumnya, pada abad ke-X, Gunung Patuha meletus menciptakan Kawah Saat.

Air Kawah Putih Ciwidey terlihat berwarna hijau keputihan. Hawa Kawah Putih cukup dingin meskipun pada siang hari, bau belerang pun tidak begitu mengganggu, meski tanpa masker. Tanah tepian Kawah Putih ini berwarna keputihan, namun pada saat tertentu akan berubah warna menjadi coklat susu. Bentuk permukaan danau Kawah Putih Ciwidey hampir menyerupai huruf T.

Masyarakat Ciwidey dulu menganggap Gunung Patuha sebagai gunung tertua angker keramat, tempat bersemayamnya para karuhun Bandung Selatan dan pusat kerajaan jin.

Pada 1837, Dr. Franz Wilhem Junghuhn, seorang Belanda peranakan Jerman, melakukan perjalanan ke Bandung Selatan, dan menemukan suasananya sangat sepi, tanpa seekor binatang terlihat. Masyarakat menjelaskan bahwa burung yang terbang melintas di atas kawasan itu jatuh mati karena tempatnya angker.

Junghuhn tidak percaya, ia meneruskan perjalanannya menembus hutan. Maka ia pun menemukan danau indah berwarna putih kehijauan dengan bau belerang menyengat. Kawah Putih Ciwidey ditemukan, misteri mengapa burung tidak melintas pun terjawab.

kawah putih ciwidey bandung
Kawah Putih Ciwidey tampak cukup ramai dikunjungi pejalan, meskipun bukan di akhir pekan. Berkunjung Kawah Putih Ciwidey memang lebih menyenangkan jika bukan di akhir pekan. Lebih leluasa dan tidak macet.

Tidak adanya tempat duduk di sekitar Kawah Putih Ciwidey ini mungkin disengaja karena kandungan belerang kawah yang tinggi. Kawah Putih Ciwidey juga merupakan satu-satunya wisata Ciwidey yang tidak menyediakan tempat makan.

Di pinggir Kawah Putih terdapat gua bekas tambang belerang Kawah Putih Ciwidey dari jaman Belanda, yang diolah di pabrik belerang Zwavel Ontgining Kawah Putih. Pada jaman Jepang, namanya menjadi Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey.

Kawah Putih Ciwidey lebih hidup dengan kehadiran seorang pemusik yang terus memetik dawai sitarnya menyanyikan lagu-lagu berbahasa Sunda. Ia menyediakan kaleng sumbangan bagi pengunjung Kawah Putih yang tergerak hati dan tangannya.

Inilah sebagian dari tembang yang dinyanyikannya:

Saat hendak meninggalkan Kawah Putih, saya melihat sebuah tengara di ujung area tempat parkir Kawah Putih. Tengara itu berbunyi “Pamuka Lawang Kawah Putih Kawah Saat Gunung Patuha”. Ada juga sebuah papan yang berisi kisah cukup panjang tentang penemuan Kawah Putih.

Foto Kawah Putih Ciwidey berikutnya: 4.Jalan Tembus 5.Tengara 6.Sela Pohon 7.Undakan 8.Tepian Kawah 9.Panorama 10.Portrait 11.Gua 12.Musisi 13.Prasasti

Kawah Putih Ciwidey

Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey, Bandung (lihat Peta)

Tiket: Rp. 15.000 (Rp.12.000 hari kerja)
Wisman : Rp. 30.000
Roda dua: Rp. 5.000 (Rp.15.000 parkir atas)
Roda empat: Rp. 6.000 (Rp. 150.000 parkir atas )
Bus: Rp. 25.000 (parkir bawah)
Angkutan ontang-anting dari parkir bawah ke tepi Kawah Putih: Rp. 10.000

Untuk menghemat, mobil parkir di bawah Kawah Putih Ciwidey, sehingga hanya membayar per kepala 15.000 + 10.000, ditambah parkir mobil 6.000.

Wisata Terdekat Kawah Putih Ciwidey

Bumi Perkemahan Ranca Upas (6,4 km) | Air Panas Cimanggu (6,5 km) | Air Panas Walini (7,4 m) | Perkebunan Teh Ranca Bali (7,6 km) | Situ Patengan (12,2 km)

Akses ke Kawah Putih Ciwidey

Mobil dari Jakarta lewat tol Cipularang, keluar pintu tol Kopo, melewati Jl. Terusan Kopo – Soreang, lalu belok ke kanan ke Jl. Raya Soreang, lanjut ke Jl. Raya Soreang – Ciwidey dan terus mengikuti jalan yang mulus dan berkelok naik ke Kawah Putih.

Angkutan Umum ke Kawah Putih Ciwidey
Dari Jakarta bisa naik bus dari Terminal Kampung Rambutan, Cawang (yang langsung masuk tol), Pulau Gadung (bus Patriot), Lebak Bulus, Kalideres, Tangerang, Bogor ke Terminal Leuwipanjang Bandung (ongkos sekitar Rp.50.000).
Dari Terminal Bus Leuwipanjang, naik angkot ELF atau Bus Putra Setia jurusan Bandung — Ciwidey, turun Ciwidey (Rp.6.000).
Dari Ciwidey naik angkot Jurusan Ciwidey – Situ Patengan, turun di pintu masuk Kawah Putih (Rp.6.000). Naik angkutan ontang-anting dari gerbang ke area Kawah Putih (Rp.10.000 + 16.000 tiket masuk).

Pilihan lain adalah naik travel Jakarta – Bandung dengan tujuan akhir di area yang terdekat dengan Terminal Leuwipanjang. Waktu tempuh bisa lebih cepat, dan harganya tidak jauh beda.

Terkait Kawah Putih Ciwidey
Tempat Wisata di Bandung, Peta Wisata Bandung, Hotel Murah di Bandung, Hotel di Ciwidey



Share on FacebookTweetPrint This!