Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta

Sempat lama juga saya menunggu sebelum akhirnya diijinkan untuk masuk melihat koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Alasannya adalah sedang ada rapat, namun setelah sempat hampir menyerah, akhirnya datang seorang ibu bernama Yayu (lupa jabatannya) yang kemudian menemani saya untuk melihat koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta.

Saya tidak ingat apa atau siapa yang mengilhami sampai saya berkunjung ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Ini adalah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) kedua yang saya kunjungi, setelah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan saat meminta ijin untuk memotret Museum Trowulan.

Ketidaknyamanan karena menunggu lama terobati dengan keramahtamahan Bu Yayu saat berkeliling, ditambah penjelasannya yang membantu tentang koleksi yang disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta ini.

Lokasi gedung Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta ini berada di Jl. Yogya-Solo km 15, Bogem, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Bogem juga terkenal dengan tukang sunatnya, yang banyak didatangi orang tua dari berbagai daerah untuk menyunatkan anaknya sejak awal tahun 60-an.

Saya terkesan ketika memasuki ruangan tempat penyimpanan benda-benda purbakala di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta ini. Terlihat ditata dengan cantik, berpendingin, dan pengaturan penerangannya pun juga baik.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Arca Siva Mahadewa di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta, berdiri di atas padmasana (teratai) dengan sikap samabbhanga (tegak lurus), terbuat dari perunggu, ditemukan di Kricak Kidul, Tegalreja, Yogyakarta.

Di bawah padmasana terdapat nandi (kerbau) sebagai binatang tunggangannya. Di belakangnya terdapat prabha (simbol cahaya) berhias lidah api, kepalanya memakai jatamukuta (rambut yang dipilin menjadi mahkota) berhias bulan sabit dan ardhacandrakapala (tengkorak). Tangan kanan depan memegang trisula, kanan belakang memegang aksamala (tasbih), tangan kiri depan memegang kendi dan tangan kiri belakang memegang camara (alat pengusir lalat).

Pelupuk mata arca Siwa ini berlapis perak, dan bibirnya berlapis emas. Sebagai mahadeva, Siwa menggunakan upavita (tali kasta) berupa ular, dan berpakaian kulit harimau.

Ada koleksi Genta yang biasa digunakan untuk memanggil umat dalam upacara ritual keagamaan. Genta yang terbuat dari perunggu ini ditemukan tahun 1989 di Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman, diperkirakan dibuat pada abad VIII, seumuran dengan Candi Kalasan.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Mungkin di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta inilah untuk pertama kalinya saya melihat sebuah lingga dengan ukiran huruf kuna di permukaannya.

Lingga yang disebut Prasasti Salimar IV ini ditemukan pada 25 Desember 1957 oleh tukang gali bangunan ketika membangun kompleks SMA De Britto di Demangan, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Prasasti Salimar VI ditemukan pada Juli 1988.

Prasasti Salimar dibuat dari bahan andesit, ditulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuna sebanyak dua baris. Salimar adalah tanah yang diberikan Raja Mataram Kuno Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala sebagai hadiah kepada Sang Hakim dan Eksekutor Hukum Syariat Agama Sang Pamgat Balakas pada tahun 880 M.

Oleh raja, Salimar diberi status tanah perdikan yang bebas pajak, diapit oleh Desa Kandang dan Desa Pakuwani, dan memasang patok berjumlah 6 buah di sekeliling hutan. Patok itu yang sekarang dikenal sebagai Prasasti Salimar. Konon hutan Salimar itulah yang kini menjadi daerah Sleman.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Prasasti Rumwiga di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta, terdiri dari tiga lempeng terbuat dari tembaga. Lempeng I berangka tahun 826 Saka, ditulis bolak-balik dengan huruf dan bahasa Jawa Kuna, berisikan permohonan pengurangan pajak.

Sedangkan Prasasti Rumwiga II berangka tahun 827 Saka, berisi permohonan anugerah mapasang gunung. Prasasti ini ditemukan di di Gedongan, Srimulyo, Piyungan, Bantul, pada 1981.

Ada Arca-arca perunggu yang berasal dari Surocolo, Seloharjo, Pundong, Bantul. Arca-arca ini ditemukan pada 1976 oleh Sudarnowijono ketika menggali tanah untuk mengurug lantai rumahnya.

Arca dalam posisi berdiri adalah:
Vajragantha, dewi pemikat dan pengikat
Vinayaka, dewi pemikat dan penjaga pintu mandala
Vajrasphota, dewi pemikat dan penjaga pintu mandala
Vajralasi, dewi tari, penjaga pintu mandala
Haysya, penjaga pintu mandala, berbadan manusia berkepala kuda
Sukaraysa, penjaga pintu mandala, berbadan manusia berwajah babi.

Sedangkan arca dalam posisi duduk adalah:
Vajraraga, bodhisttva cinta
Vjraloka atau Vajradipa, dewi pelita, wewangian dan cahaya
Vajradupa, satu dari empat dewi wewangian, kedua tangan memegang dupa
Vajraraksa, satu dari 16 bodhisttva
Vajrabhasa, bodhisttva
Mukunda, dewi musik, memainkan membranophone
Muraja,dewi musik, memainkan sejenis tamborin
Vamsa, dewi Musik, kedua tangan memainkan seruling
Vajragiti, dewi nyanyian, kedua tangan memainkan alat musik Vina asal India berdawai tujuh

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Diantaranya adalah arca Vajrapani, yaitu Dhyani Bodhisatva yang menguasai mata angin sisi Timur, terbuat dari perunggu, dalam posisi berdiri dengan tangan kanan memegang vajra, ditemukan di Glagah, Temon, Kulonprogo.

Lalu ada arca Dewa Ganesha yang ditemukan di kompleks Candi Prambanan, terbuat dari perunggu; beberapa buah genta; arca Bhairawa sebatas perut terbuat dari perunggu, pada bagian bawahnya terdapat tulisan “HUM”, ditemukan di Pencar, Sindurmartani, Ngemplak, Sleman.

Ada pula Arca Amitabha, dhyani Buddha yang menguasai mata angin sisi Barat, menggambarkan musim panas dan berwarna merah, terbuat dari perunggu, ditemukan di Karangtanjung, Pendowoharjo, Sleman. Di tengah adalah talam berukuran besar terbuat dari perunggu dengan ukiran cantik di tengahnya.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Arca Mahesvari di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta, yang merupakan salah satu dari tujuh Dewi Ibu (saptamatara atau saptamatrika) serta pendamping Mahesvara (atau Siwa Mahadewa di era Jawa Tengah Kuna).

Arca Mahesvari ini berkepala lima, bertangan empat, namun salah satu tangannya telah rusak. Tangan lainnya memegang trisula, aksamala, dengan sikap waramudra. Menggunakan mahokota jatamakuta, kundala, hara, keyura, dan kankana.

Prasasti Ratu Boko juga disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Prasasti yang terbuat dari batu andesit ini ditemukan di kompleks Ratu Boko, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, ditulis dengan aksara Jawa Kuna dengan bahasa Sanskerta.

Prasasti berangka tahun 792 M ini menyebutkan bahwa Raja Tejapurnama Panangkaran (diduga Rakai Panangkaran) telah memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Arca Ganesha di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta ini ditemukan pada 1980 di Sinden II, Selomartani, Kalasan, Sleman, dan diperkirakan berasal dari abad VIII – IX M.

Selain dipuja sebagai dewa ilmu pengetahuan dan perdamaian (karenanya sering digunakan sebagai lambang di beberapa perguruan tinggi), Ganesha atau Ganapati juga dipuja sebagai dewa penolak bahaya, sehingga sering ditemukan berada di tempat berbahaya, seperti di penyeberangan sungai dan jurang.

Ada pula sebuah genta dengan ornamen cantik terbuat dari perunggu di berasal dari daerah Gamping, Sleman.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Arca yang sangat indah dan menarik di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta ini disebut Wamana Triwikrama.

Dewa Wisnu menjelma menjadi Wamana (orang kerdil) dan meminta kepada Daitya Bali yang sangat lalim agar kepadanya diberikan tanah seluas tiga langkah. Setelah dikabulkan, maka dengan triwikrama (tiga langkah) Wisnu pun menguasai bumi, angkasa dan surga.

Pemujaan pada Dewa Wisnu muncul pada periode klasik Jawa Tengah di abad VIII – IX M, bertujuan untuk menyelamatkan dunia karena kekacauan yang dianggap telah mencapai puncaknya. Arca yang terbuat dari batu andesit ini ditemukan pada 1989 oleh Bp Trimorejo.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Sebuah Arca Narasimha yang disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Arca ini terbuat dari batu andesit, ditemukan pada 1975 di Candi Ijo, sebagai penjelmaan Dewa Wisnu yang berbadan manusia berwajah Singa.

Wisnu turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari kekejaman raksasa Hiranyakacipu yang hanya bisa dibunuh ketika senja. Munculnya Narasimha menyusul timbulnya kekacauan pada masa Kertayuga, di awal berdirinya Kerajaan Mataram Hindu abad VIII – IX M. Pemujaan terhadap Narasimha mengandung harapan agar kekacauan itu bisa segera berakhir.

Arca-arca yang diletakkan dengan rapi di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta. Diantaranya adalah Arca Resi Agastya yang ditemukan di Candi Ijo, berasal dari abad IX – X M.

Resi Agastya diakui sangat berjasa dalam menyebarkan agama Hindu ke Selatan, termasuk ke Indonesia. Sering digambarkan dalam posisi berdiri, dengan dua tangan, berwajah tua, berkumis dan berjenggot panjang, perut agak buncit, memegang kendi dan tasbih, serta di samping belakangnya ada sebuah trisula.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Sebuah Lingga di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta yang terlihat sangat cantik, terbuat dari batu granit yang ditatah halus.

Lingga ini ditemukan di Candi Kedulan, berasal dari abad IX M (791 Saka). Aspek utama Lingga adalah melambangkan api atau cahaya, sebagai perwujudan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang raja.

balai pelestarian peninggalan purbakala bp3 yogyakarta
Prasasti Pananggaran di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta yang terlihat utuh dan cantik, terbuat dari batu andesit, ditemukan pada 2002 di Candi Kedulan.

Prasasti ini berasal dari abad IX M, ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna, terdiri dari 14 baris, berpenanggalan 15 Agustus 869 M, berisi penetapan tanah perdikan dan bendungan di Pananggaran.

Ada pula Prasasti Sumundul, terbuat dari batu andesit, ditemukan di Candi Kedulan pada tahun 2002. Prasasti ini juga berasal dari abad IX M, ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna, terdiri dari 15 baris, berpenanggalan 15 Agustus 869 M (791 Saka).

Koleksi peninggalan purbakala yang disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta ini sangat beragam dan sungguh sangat mengesankan.

Ketika berpamitan, Bu Yayu memberikan kepada saya beberapa buah jurnal dan majalah arkeologi serta buku tentang koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta yang telah diterbitkan.

Sudah semestinya jika peninggalan leluhur bernilai sejarah tinggi yang disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta ini dipromosikan secara luas sehingga bisa dinikmati dan dipelajari oleh masyarakat banyak, agar menjadi inspirasi dan bisa ikut membantu menumbuhkan jati diri sebagai bangsa.

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala ( BP3 ) Yogyakarta

Jl. Yogya-Solo km 15, Bogem
Kalasan, Sleman, Yogyakarta
Telp: +62-274-496019, +62-274-496419
Fax: +62-274-496019
GPS: -7.75706, 110.48200

Terkait Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta
Tempat Wisata di Sleman, Peta Wisata Sleman, Hotel di Yogyakarta



Share on Facebook ~ Tweet ~ Print This! ~ Share via Email