Benteng VOC Jepara

Matahari mulai bergeser ke Barat ketika kendaraan yang kami tumpangi berbelok dan menanjak ke arah perbukitan menuju ke Benteng VOC Jepara. Keberadaan benteng peninggalan VOC itu saya ketahui saat hendak berkunjung ke Museum Kartini, namun penjaganya sedang istirahat. Istirahat yang cukup panjang karena sudah lewat jam setengah dua siang.

Atas petunjuk ibu penjual jajanan di depan museum yang baik hati, ketimbang menunggu dengan waktu tak jelas di museum, kami akhirnya pergi ke puncak bukit dimana Benteng VOC

Pantai Tirto Samodra Jepara

Saat itu baru saja lewat jam 12 siang saat kami tiba di Pantai Tirto Samodra Jepara. Bukan waktu yang ideal untuk berkunjung ke sebuah pantai, namun pejalan yang bukan penduduk sebuah kota kadang memilih efisiensi waktu. Kadang tak memilih apa-apa, hanya mengikuti kemana roda kendaraan menuju. Begitu pun, setiap waktu tentu ada daya tarik dan daya dorongnya sendiri.

Pantai Tirto Samodra Jepara adalah kawasan wisata pantai kedua di wilayah Jepara yang kami kunjungi setelah sebelumnya sempat pergi ke Pantai Kartini dan menyeberang ke

Sop Buntut Bu Leman Pekalongan

Tulisan tentang kuliner Sop Buntut Bu Leman Pekalongan ini sekaligus menutup serial tulisan perjalanan di kota batik di pesisir utara Pulau Jawa ini. Tengah hari baru saja lewat beberapa menit saat kami masuk ke dalam rumah makan dengan menu utama sop buntut ini. Meskipun terlihat ada beberapa tamu, namun pengunjung belum begitu ramai saat itu.

Lokasi Rumah Makan Sop Buntut Bu Leman berada di Jl Dr. Wahidin No. 90 D Pekalongan, sekitar 3,3 km atau 9 menit perjalanan ke Stasiun Pekalongan, tempat yang akan saya tuju

Gereja Katolik Santo Petrus Pekalongan

Sesungguhnya sudah beberapa kali kami lewat di depan gedung Gereja Katolik Santo Petrus Pekalongan dan cukup terkesan dengan gaya bangunannya yang menyerupai bangunan Eropa dengan pilar-pilar tinggi. Lokasi gereja ini memang sangat strategis, berada di dekat Jembatan Loji, di sisi kiri jalan pada arah menuju ke Museum Batik Pekalongan.

Bangunan tempat ibadah dari kepercayaan dan agama apa pun selalu menarik perhatian saya, dan hampir selalu ada keinginan untuk mampir dan melihat isi dalamannya. Begitu

Pantai Pasir Kencana Pekalongan

Saat hendak berkunjung ke Pantai Pasir Kencana Pekalongan hari sebenarnya sudah mendekati siang, namun karena telah berada di dekat lokasi maka kami masuk juga ke dalam area pantai, melewati pintu gerbang berbayar. Pantai ini masih berada di dalam wilayah Kota Pekalongan, berdekatan dengan lokasi TPI Kota Pekalongan dan kawasan Wisata Bahari PPN Pekalongan.

Mestinya waktu terbaik untuk berkunjung ke pantai adalah pagi hari ketika langit belum mulai pucat terkena sinar matahari, atau sore saat sengat panas mulai mereda hingga

Wisata Bahari Pekalongan

Matahari sudah mulai naik agak tinggi ketika kami memasuki gerbang Wisata Bahari Pekalongan yang berada di dalam kompleks PPN (Pelabuhan Perikanan Nusantara) Pekalongan. Gerbang masuk ke kawasan wisata pantai ini berjarak sekitar 280 meter dari warung Gulai Kepala Manyung Pak Rozi yang letaknya berseberangan dengan bangunan TPI Kota Pekalongan.

Di sebelah depan gerbang masuk terdapat area parkir yang lumayan luas dan bisa menampung kendaraan besar. Area parkir luar Wisata Bahari Pekalongan itu tampaknya

TPI Kota Pekalongan

Hari masih cukup pagi ketika kami tiba di gerbang masuk ke area TPI Kota Pekalongan yang berada di kawasan PPNP (Pelabuhan Perikanan Nasional Pekalongan). Lokasinya persis di samping Sungai Loji, sekitar 500 meter sebelum muara. Sungai yang lebarnya sekitar 100 meter-an ini dalam keadaan normal bisa dilalui oleh kapal nelayan berbobot 30 gross ton.

Suasana sudah terlihat ramai saat kami melintas di halaman dalam TPI Kota Pekalongan dan lalu masuk ke bangunan tempat pelelangan ikan dengan atap tumpang tinggi dan